oleh : Ari Hendra Lukmana *)

Dirasa kurang efektif dan tidak reseprentatif dalam mengajarkan sebuah nilai-nilai agama islam didalam sebuah kelas formal di kampus, maka perlunya sebuah metode yang mampu dan efektif, sehingga muncullah gagasan untuk menerapan sistem atau metode asistensi. Metode yang secara langsung dan fokus yang dilakukan seorang pengajar atau pemandu dalam memberikan ajaran-ajaran islam kepada beberapa orang dalam sebuah kelompok. Sistem inilah yang ternyata melahirkan sebuah hasil yang memuaskan, baik ditinjau dari pihak kampus yang mudah dalam penilean mahasiswa dalam kuliah agama islam, yang tidak hanya secara sederhana dinilai dari kognitif saja. Dari segi mahasiswa sendiri keuntungan system ini dapat dilihat dari lebih mudahnya mahasiswa dalam saling menimba ilmu antara pemandu dengan peserta. AAI Sistem ini terinspirasi dari metode awal dakwah Nabi Muhammad SAW ketika baru saja diangkat menjadi seorang rosul. Metode dakwah yang diterapkan pada awal kerosullan nabi yang sukses menciptakan istilah Assabiqunalawalun atau sebutan untuk orang-orang awal yang masuk islam dalam periode dakwah rosulluloh, yang banyak dalam membantu dakwah nabi Muhammad SAW tentu saja karena keikhlash mereka yang hanya mengharap ridho Alloh SWT, dan tegaknya agama Islam. kesuksesan inilah yang selanjutnya di lanjukan oleh para sahabat rosul dan ulama-ulama kita terdahulu tentu karena masih dengan konsep dan semanangat yang sama yaitu hanya mengharapkan ridho Alloh, keikhlasan tanpa mengharapkan suatu apapun dan berjuang dengan sekuat tenaga.

* Asistensi Agama Islam ditengah badai.

Subtitle inilah mungkin untuk menggambarkan bagaimana kondisi AAI saat ini di Universitas Gadjah Mada. Semakin kita jauh mengayuh sampan, tentu badai akan semakin sering menghapiri kita. Pepatah melayu yang sering kita dengar mungkin juga cocok untuk kita terapkan, jauh AAI telah mengembangkan layarnya tentu permasalahan satu demi satu muncul, baik itu datangnya dari internal maupun eksternal. Mulai dari tekhnis pelaksanaan yang masih kurang baik, ketidak eksisan AAI, keraguan pihak-pihak tertentu mengenai manfaat dan kepentingan apa yang sebenarnya di usahakan di AAI ini, ataukah masih sesuai koridor dalam pelaksanaanya ataukah hanya telah menjadi sebuah alat untuk kepentingan-kepentingan tertentu bagi sekelompok golongan di kalangan Mahasiswa. Bahkan sampai pada isu-isu yang berkenaan dengan permasalahan sosial dan kebudayaan seperti kecenderungan Mahasiswa sekarang yang kurang sadar untuk mengkaji lebih dalam soal nilai-nilai dan pengetahuan tentang agama islam, sehingga Mahasiswa cenderung tidak serius dalam mengikuti AAI dan seolah-olah lebih hanya sekedar mencari nilai saja. Hal inilah kadang menghambat atau bahkan kadang mengurangi ghirah baik pengelola, pembibing dan peserta sendiri dalam menjalankan dakwah ini. Permalahan-permasalahan inilah sebenarnya menghambat kesuksesan AAI sebagai media dakwah yang efektif dikalangan Mahasiswa yang tentu saja penyelesaiannya menjadi tugas kita bersama-sama.

* Mengembalikan konsep ditengah badai.

Ghirah AAI harus tetap ditegakkan, ghirah sepeti apakah?, tentu sebuah ghirah yang telah dicontohkan oleh suri tauladan kita, atau uswah kita Nabi Muhammad SAW. Sebuah ghirah yang Alloh tanamkan untuk utusanya, dan seharunya mari kita mencoba untuk mulai kita tanamkan pada diri kita. Yaitu sebuah ghirah untuk mengharapkan ridho Alloh, niat tulus, rela berkorban, dan tentu saja dengan ditambah bekal ilmu yang banyak. Hal itulah yang seharusnya kita pikirkan bersama-sama, dan tentu diawali dengan kesadaran kita masing-masing. Hal-hal tersebut diatas merupakan dasar penyelesaian permasalahan dari berbagai permasalahan yang ada. Jika kita mampu menerapkan pada diri kita terutama sebagai seorang pemandu maka, permasalahan yang banyak terjadi akan kita sikapi dengan bijak. Yang akan membawa pada sebuah penyelesaian yang mudah, karena kita sudah mempunyai dasar kenyakinan dan pemikiran yang kuat. AAI memang sangat singkat. Akan tetapi makna, nilai pemahaman akan agama islam, pengamalan agama islam dan sebuah kebersamaan yang didapat dari AAI, haruslah menjadi sebuah kenangan tersendiri dan abadi bagi para asisiten dan khususnya peserta. Kenangan inilah yang akan membawa pada sebuah pengamalan akan agama islam dimanapun mereka berada. Sebuah Konsep yang ditawarkan kembali, yang sebenarnya konsep ini mengembangkan dan lebih mendalami dengan memahami konsep dari Rosululloh yang seharusnya diaplikasikan dalam kehidupan kita. Konsep yang sangat tekhnis inilah, muncul ketika keadaan para peserta AAI yang cenderung kemauawannya menurun untuk mengikuti asistensi ini. Mungkin saat ini peserta memandang AAI hanya duduk manis dan dengerin ceramah tentor tanpa tindak lanjut kebelakang dari pihak tentor, dan melemahnya ghirah dakwah para pemandu. persepsi inilah yang harus kita rubah. Mungkin konsep ini sudah banyak diusulkan atau bahkan telah dilaksanakan oleh segelintir pemandu di fakultas tertentu. Kongkret konsep yang ditawarkan adalah metode dakwah yang bersifat humanis. Tentu kita sudah tahu secara garis besar metode dakwah ini, yaitu dengan memanusiakan manusia. Yang sebenarnya merupakan konsep yang menjadi kunci sukses Rosululloh dalam berdakwah. Seharusnya mulai saat ini kita belajar bagaimana dahulu Nabi menjalin hubungan sosialnya dengan masyarakat Arap yang sangat bagus sehingga banyak kisah-kisah yang menyebutkan bahwa keberhasilan dakwah beliau, karena bagaimana beliau mampu bergaul dan memahami orang-orang pada masa itu. Konsep inilah yang harus kita tumbuhkan lagi di dalam AAI ini baik dengan cara pendekatan-pendekatan khusus yang dilakukan pendamping, mencoba memahami setiap peserta, dan mencoba untuk menjadi seorang yang selalu menawarkan dan membantu dalam setiap penyelesaian yang dihadapi oleh para peserta. Inilah pengaplikasian sebuah iman dan taqwa yang sesungguhnya, dan mungkin hal inilah yang masih menjadi tanggungan kita bersama, mari mulailah kita fikirkan dan selalu berusaha mempelajari bersama-sama, dengan keistiqomahan dengan hanya mengharapkan keridhoan NYA. Waullohuaklam.

*) Staff Bidang Dakwah PK IMM UGM 2009-2010

Category: Opini  Tags: ,  4 Comments
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
4 Responses
  1. Zulfi Ifani says:

    Yah, AAI memang mengundang banyak perdebatan…
    Namun, bagi saya memang, sementara inilah sistem terbaik yang ada…

    Bukan apa2,, ini murni ketidakmampuan kawan2 yang mengkritik untuk menawarkan solusi alternatif…

  2. jangan menjadikan kepentingan politik diatas kepentingan dakwah..atau jangan menunggangi agama dengan politik

  3. ozy dodol says:

    AAI Sudah bagus cuman kurang kontemporer…perlu lakukan jihad intelektual.WSLM

  4. hamba Allah says:

    yang jadi masalah sebenarnya bukan AAI-nya, tapi pemandunya… gak antusias…

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>