oleh : Ahmad Mujahid Arrozy *)
Katakanlah: “Adapun yang diwahyukan kepadaku ( Nabi Muhammad SAW ) oleh Tuhanku, bahwa sesungguhnya Tuhanmu, hanyalah Tuhan Yang Maha Esa! Sudahkah kalian mematuhi wahyu itu ?”. QS Al-Anbiya 108.
Waktu pertama kali saya menjawab soal asistensi agama Islam ( AAI ) ada sebuah soal yang menyatakan bahwa Wowo ( aktor di soal itu ) sering kali mengucapkan syahadat tetapi ia sangat suka sekali ramalan bintang, minta bantuan dukun ajaib, dan mendatangi pohon besar. Tentu soal ini sangat menarik bagi saya dan fenomenal di kalangan masyarakat. Dalam era yang telah memasuki wawasan posmodernisme tentu menjadi asing fenomena ini walaupun memang ada sebagian yang masih melakukan ritual seperti itu tidak memandang tempat, kota maupun desa cuman kalaupun di kota dipublikasikan melalui iklan televisi atau majalah. Tetapi jika menilik kembali sejarah agama-agama maka telah dinyatakan bahwa tugas para nabi-nabi adalah membebaskan dari sesuatu yang mendarah daging dan menindas. Sesuatu yang kolot menjadi dinamis. Nabi membebaskan dari cengkeraman budaya politeistik seperti meyakini banyak Tuhan dan benda-benda yang tak masuk akal. Nabi menembus batas tradisi yang menyesatkan menuju peradaban intelektual. Nabi dalam Islam membawa wahyu yang telah diutus oleh Allah SWT. Wahyu menjadi perbedaan di dalam pemikiran Islam karena memang manusia tidak bisa lepas dari Tuhannya dalam dinamika kehidupan.

Recent Comments