
Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Gadjah Mada (IMM UGM) yang dilaksanakan pada tanggal 11-12 September 2009 lalu, diikuti oleh pimpinan hingga simpatisan IMM UGM. Bertempat di Gedung Muhammadiyah DIY jalan Gedong Kuning Yogyakarta, dengan menghadirkan pembicara dr. Agus Taufiqurrahman. Dokter, dosen, sekaligus Sekretaris PWM DIY tersebut mengingatkan pada para peserta untuk senantiasa meningkatkan kompetensi dasar kader.
Dalam hal religiusitas, ada tiga hal yang harus senantiasa ditingkatkan, yaitu ma’rifat Allah, ma’rifat Rasul, dan ma’rifat ad-dien. Selain itu, beliau menambahkan perlunya penguasaan Bahasa Arab, sebagai salah satu alat untuk mengkaji Islam, dan hafalan Al Qur’an serta As Sunnah. Sedangkan sebagai kompetensi intelektualitas, penguasaan Bahasa Inggris dan pengetahuan umum kader IMM semestinya sudah mumpuni. Dan tentu saja kemampuan tersebut harus mampu melahirkan kepekaan sosial sebagai komptensi humanitas. “Berani tidak IMM UGM membuat syarat Pimpinan harus hafal 8 juz Al Qur’an, mampu berbahasa Arab, dan TOEFL minimal 600?”, tantang dokter yang juga menjadi dosen Agama Islam tersebut.
Acara Mabit kali ini masuk dalam rangkaian kegiatan Ramadhan Bersama IMM UGM (RBI) 1430. Menurut koordinator acara, Miftahurrahma Rosyida, Mabit memang dititikberatkan pada pembinaan religiusitas, selain untuk meningkatkan ukhuwah antar peserta. Acara dimulai dengan buka bersama, kemudian selain materi dari pembicara juga ada diskusi terkait materi tersebut, dan juga tadarus dan mengkaji Al-Qur’an. (HQ)

Banyak statemen Pak Agus yg menarik sekaligus menohok. Meyakinkan kita bahwa label aktivis Islam belum pantas kita miliki…
kalau sekarang kayaknya belum ada yang memenuhi kualifikasi itu pak agus.. jangankan untuk imm ugm, mungkin mencari pemimpin kayak gini di tingkatan dpp juga sulit..
saya de javu pas pak agus bilang tentang mahasiswa yang gayanya sok ekslusif,sok2an pinter,high level klo bergaul(tak dramatisir sedikit) ,dsb .Sehingga mahasiswa lain tidak ikut ber-IMX (sebenarnya ini yang paling saya ingat).aku pernah ngerasani anak2 XPM di tempatku..JANGAN2 SAYA SEPERTI ITU JUGA(jika dilihat dari luar) ..mari instrospeksi diri,…
Saya setuju bahwa KADER IMM HARUS MEMILIKI CIRI KHAS DARI PERGERAKAN LAINNYA YAITU: agamane bagus(sholeh dan sholehah), pinter(hard skill dan soft skill) serta peduli sesama ( humanis)..mari ber FASTABIQUL KHAIRAT!
Halah yusro… pake nama samaran segala, kayak teroris aja. haha.
Menurutku anak-anak IMM (setauku yg di UGM) tidak ada sifat sok eksklusif, high level, dsb. Mereka biasa-biasa saja dalam pergaulan, tidak hanya bergaul di musholla.
Kalau menurutku, sebaiknya ciri khas kader IMM UGM itu santun dan inklusif (dalam pergaulan, bukan aqidah). Relijiusitas, humanitas, intelektualitas itu adalah kompetensi kader yang harus diinternalisasi. Yang kemudian itu dikemas dalam sosok yang santun dan inklusif.
oalah,,pak Agus orang muhammadiyah tah..huhuhu,,
pernah ikut seminarnya ga taw kalo masih ‘keluarga’he2
PAK ADMIN ANDA SEPERTI ITU NDAK?!
Insya Allah sedang menuju ke sana.