Archive for » April, 2010 «

oleh Irfa Fahd Rizal

Dalam perjalan sejarah umat manusia, tidak lepas dari pengaruh oleh orang orang yang berperan didalamnya. Baik para para pemikir sosial maupun para ilmuan eksakta keduanya sangat berpengaruh dalam perkembangan zaman di kemudian hari. Menurut Michael Hart (1978) dalam bukunya 100 orang yang paling berpengaruh di dunia mencatat bahawa sosok yang baling dapat membawa perubahan di dunia adalah Muhammad SAW. Telaah yang dilakukan Dr. Hart adalah penkajian secara ilmiah dengan melihat berbagai prespektif. Menurut Dr. Munzir (2008) dalam disertasinya yang kemudian dibukukan mejelaskan, bahwa bukti misi Revolusioner Nabi Muhammad SAW, tidak saja terlihat pada masa hidupnya. Pada masa Nabi, ajaran Islam yang awalnya sama sekali ditolak oleh karena meruntuhkan tradisi Makkah ketika itu kemudian dapat diterima oleh masyarakat, dengan puncaknya pada peristiwa Fathul Makkah. Sebagai aktor perubahan, Muhammad SAW sangatlah sukses dalam membawa misi Profetiknya ketika itu. Bagaimana Muhammad SWA, menjadi pembebas masyarakat dari berbagai macam ketidakadilah sosial, kejahiliahan sosial, dan yang lebih penting adalah penyadaran akan transindental pada pencipta, Allah SWT. Lanjut…

oleh : Inamul Haqqi Hasan*

Pendahuluan : Para Pendusta Agama
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
Itulah orang yang menghardik anak yatim
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (Al Ma’un 1-3)

Surat Al Ma’un, mungkin sebuah sebuah surat yang sudah dihafal oleh murid- murid TK, khususnya yang berbasis Islam. Tidak terlalu susah untuk menghafalnya, hanya 7 ayat pendek-pendek. Namun, jika dipahami lebih dalam, sesungguhnya surat ini membawa misi kemanusiaan Islam yang amat kuat. Sampai-sampai Sayyid Quthb menyebutnya sebagai memecahkan hakikat besar yang hampir mendominasi pengertian iman dan kufur secara total. Tidak ada yang lebih jelas dan lebih tegas daripada ketiga ayat ini dalam menetapkan hakikat yang mencerminkan ruh aqidah dan tabiat agama ini dengan cermin yang lebih tepat. (Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zilalil Qur’an, dikutip dari Said Tuhuleley, 2010). Ketiga ayat yang dimaksud Quthb adalah ayat 1-3 surat Al Ma’un, di mana di dalamnya menjelaskan siapa pendusta agama. Kriteria pendusta agama yang pertama adalah orang yang menghardik anak yatim, dan kriteria kedua adalah yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Menariknya, di sana terdapat kata “menganjurkan”, tidak langsung memberi makan orang miskin. Ahmad Mustafa Al Maraghy dalam kitab tafsir Al Maraghy menjelaskan bahwa jika kita mampu memberi makan orang miskin maka kewajiban kita adalah memberi, tetapi jika kita tidak mampu maka kewajiban kita adalah menganjurkan bagi yang mampu untuk memberi makan orang miskin. Lanjut…