<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>:: IMM UGM ONLINE ::</title>
	<atom:link href="http://immugm.web.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://immugm.web.id</link>
	<description>Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Gadjah Mada</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Jun 2011 08:41:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Tidak Ada Negara Islam!</title>
		<link>http://immugm.web.id/2011/06/09/tidak-ada-negara-islam/</link>
		<comments>http://immugm.web.id/2011/06/09/tidak-ada-negara-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 08:16:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IMM UGM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://immugm.web.id/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku : Tidak Ada Negara Islam (Surat-surat Politik Nurcholish Madjid – M. Roem) Penyunting : Agus Edi Santoso Penerbit : Djambatan (Jakarta, 1997) Kata Pengantar : Ahmad Syafii Maarif &#38; Adi Sasono Jumlah Halaman : XXVII + 121 halaman Peresensi  : M. Zulfi Ifani* Judulnya bombastis: Tidak Ada Negara Islam. Judul ini bisa jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://zulfiifani.files.wordpress.com/2011/04/1886211.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1004" title="Tidak Ada Negara Islam" src="http://zulfiifani.files.wordpress.com/2011/04/1886211.jpg?w=198" alt="taken from goodreads.com" width="198" height="300" /><em><br />
<blockquote></a>Judul Buku : <strong>Tidak Ada Negara Islam</strong> (Surat-surat Politik Nurcholish Madjid – M. Roem)<br />
Penyunting : Agus Edi Santoso</p>
<p>Penerbit : Djambatan (Jakarta, 1997)</p>
<p>Kata Pengantar : Ahmad Syafii Maarif &amp; Adi Sasono</p>
<p>Jumlah Halaman : XXVII + 121 halaman</p>
<p>Peresensi  : M. Zulfi Ifani*</p></blockquote>
<p></em><br />
Judulnya bombastis: <strong>Tidak Ada Negara Islam</strong>. Judul ini bisa jadi relevan untuk dibahas beberapa waktu terakhir, mengingat beberapa mahasiswa yang menghilang (konon) karena dicuci otaknya oleh NII (Negara Islam Indonesia). Dan, saya kira dengan membaca buku ini, saya (dan juga rekan-rekan) akan lebih terbuka dalam memaknai “Negara Islam” itu sendiri.</p>
<p>Tokoh besar memang tidak terlahir secara instan. Bisa jadi seluruh kehidupan mereka memang dihibahkan untuk memikirkan obyek perjuangan mereka. Bahkan dalam surat-menyurat yang sifatnya amat personal pun, kedua tokoh ini bisa membicarakan banyak permasalahan bangsa dan agama. Luar biasa!<span id="more-271"></span></p>
<p>Surat menyurat yang terjadi dalam kurun waktu Maret 1983 – September 1983 ini dimulai saat Amien Rais pada tahun 1982 menulis sebuah essay kontroversial di Majalah <em>Panji Masyarakat </em>berjudul “Tidak Ada Negara Islam”. Menurut Amien, negara Islam tidak ada tuntunannya baik dalam Al Qur’an maupun As Sunnah (Hal. XXII). Oleh karena itu, yang jauh lebih penting menurutnya adalah Islam menganjurkan agar suatu negara menjalankan etos Islam, menegakkan keadilan sosial dan menciptakan suatu masyarakat yang egalitarian ketimbang formalitas “negara Islam”. Beberapa negara di Timur Tengah memang berdasarkan Islam, tapi monarki. Suatu sistem yang sebenarnya begitu jauh dari konsep kepemimpinan ala <em>Khulafaur Rasyidin</em>.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian essay itu ditanggapi oleh M. Roem di majalah yang sama. Beliau cenderung sepakat dengan apa yang telah disampaikan oleh Amien Rais. Menurut beliau, “Tidak saja sudah benar melainkan amat bijaksana, karena di Indonesia istilah itu (negara Islam) lebih baik jangan dipakai. Karena tidak sedikit orang yang tidak menyukainya, bahkan malah alergi” (hal. 2). Beliau melanjutkan dengan menyitir Shakespeare, <em>what’s in a name?</em>. Andaikata bunga mawar yang harus semerbak dinamakan orang bunga bangkai, ia akan masih harum semerbak (hal. 3). Sehingga, Negara Indonesia yang berbentuk Republik ini, menurut M. Roem jauh lebih dekat dengan sunnah daripada kerajaan (hal. 8). Tanggapan dari M. Roem tentang “Negara Islam” itulah yang kemudian menjadi pemantik suara pertama dari Cak Nur, tanggal 29 Maret 1983 dari Chicago.</p>
<p><strong>Dari Sekularisasi, Sjahrir-Natsir sampai dengan Partai Islam (?)</strong></p>
<p>Perbicangan antara Cak Nur dan Pak Roem mencakup isu yang amat luas. Akan tetapi bila harus dirangkum, mungkin tiga hal di atas lah yang paling menonjol.</p>
<p>Pada surat pertamanya, Cak Nur sempat menyinggung isu “sekularisasi” yang sempat dicetuskannya pada awal 1970-an. Menurutnya, ide sekularisasinya berbeda dengan sekulerisme yang cenderung mendikotomikan antara agama dan dunia. Seperti rasionalisme yang bertentangan dengan agama, tidak berarti seseorang dilarang juga bertindak rasional, begitu kata Cak Nur (hal. 21). Cak Nur mengakui bahwa istilah tersebut masih kontroversial dan belum matang. Sehingga, hikmah dari berbagai kritik yang ditunjukkan kepadanya, dimaknainya dengan meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Ia pun akhirnya mengambil studi doktoral Politik di Chicago, sebelum akhirnya lebih memilih Ilmu Filsafat dengan disertasinya tentang <em>Kalam dan Falsafah Ibnu Taimiyah</em>.</p>
<p>Diskusi lain yang mengisi sebagian besar halaman dari buku ini adalah tentang Natsir dan Syahrir. Cak Nur awalnya kecewa ketika Natsir yang menjadi Pemimpin Masyumi dalam berbagai kebijakan terlihat “mengekor” Sjahrir yang saat itu menjadi Pemimpin PSI (Partai Sosialis Indonesia). Akan tetapi, M. Roem membantah hal tersebutnya. Menurutnya, tabiat politik Sjahrir memang cenderung tidak etis dan “narsis”. Sehingga, kedekatan Natsir dengan Sjahrir harusnya dimaknai sebagai membarengi (<em>sharing</em>), bukan mengikuti (<em>following</em>). Jawaban dari M. Roem kemudian dikuatkan dengan disertasi dari Robert Myers, yang mencatumkan klaim Sjahrir sebagai pemimpin bagi “koalisi” PSI, Masyumi, Parkindo dan Partai Katolik (hal. 54). Disertasi ini kemudian menurut mereka berdua, membenarkan bahwa Sjahrir memang narsis dan kurang memiliki etika politik. Cak Nur pun mafhum dan semakin yakin bahwa Natsir memang pemimpin yang paling bijak di Indonesia (hal. 68).</p>
<p>Dalam diskusi tentang negara Islam dan peran Natsir, Cak Nur dan Pak Roem cenderung bersepakat. Akan tetapi, ada satu diskusi penting lagi yang menimbulkan ketidaksepakatan antar dua tokoh ini, yaitu tentang partai Islam. Menurut, Cak Nur sebenarnya makalah yang menjadi kontroversi di awal 1970-an judulnya adalah “Islam, Yes; Partai Islam, No?” akan tetapi banyak turunan makalah yang menghilangkan tanda tanya (?) tersebut. Semangat makalah itu adalah mempertanyakan, bukan menafikan (hal. 105). Bisa jadi, semangat bertanya tersebut muncul karena sikap kritis Cak Nur saat melihat terjadi politisasi dalil Qur’an dan Hadits agar masyarakat memilih partai tertentu. Termasuk juga kekesalan Cak Nur, karena partai “islam” yang tersisa saat itu, PPP, tidak jauh beda dengan PDI yang doyan pecat-memecat dan mencaci sesama kawan (hal. 81).</p>
<p>Sebaliknya, Pak Roem dengan tegas menyatakan bahwa: “Islam? Yes dan Partai Islam juga Yes” (hal. 90). Menurut beliau, Islam adalah pedoman hidup sedangkan partai adalah tempatnya beramal dan berjuang. Bahkan, Soekarno pun menurut beliau tidak akan jadi siapa-siapa tanpa PNI.</p>
<p><strong>Epilog</strong></p>
<p>Surat-menyurat ini pun berakhir pada 15 September 1983, beberapa hari sebelum Pak Roem meninggal dunia, tanggal 24 September 1983. Sebagai produk dari pemikiran manusia, “negara Islam” tentu akan terus menjadi perdebatan sepanjang zaman. Bahkan di Indonesia sendiri, FPI, HTI, MMI dan beberapa kelompok Islam lainnya masih terus memperjuangkan berdirinya negara Islam.</p>
<p>Beberapa link penting:</p>
<p>1. <a href="http://www.goodreads.com/book/show/1464717.Tidak_Ada_Negara_Islam">Komentar di Goodreads</a>.</p>
<p>2. <a href="http://www.csrc.or.id/resensi/index.php?detail=20100721003831">Resensi di CRSC UIN Jakarta.</a></p>
<p>*Ketua Umum PK IMM UGM 2009-2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://immugm.web.id/2011/06/09/tidak-ada-negara-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FISIPOL UGM PUBLICATION GRANT 2011</title>
		<link>http://immugm.web.id/2011/06/09/hibah-fisipol/</link>
		<comments>http://immugm.web.id/2011/06/09/hibah-fisipol/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 07:56:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IMM UGM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://immugm.web.id/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[FISIPOL UGM launches a program “FISIPOL PUBLICATION GRANT 2011!!”. It aims at increasing a number of academic writings among academia in the Faculty of Social and Political Sciences. For any inquiries please contact Ms. DHENOK PRATIWI Office of Research and Cooperation Faculty of Social and Political Sciences Universitas Gadjah Mada Mobile: 085292043143 #KETENTUAN HIBAH PENULISAN# [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="Hibah Fisipol 2011" src="http://fisipol.ugm.ac.id/dev/sites/default/files/files/news/admin/rev%20DENOK_AP%20120_1%4060_6_1.jpg?1306145379" alt="" width="240" height="360" />FISIPOL UGM launches a program “FISIPOL PUBLICATION GRANT 2011!!”. It aims at increasing a number of academic writings among academia in the Faculty of Social and Political Sciences.</p>
<p>For any inquiries please contact</p>
<p>Ms. DHENOK PRATIWI</p>
<p>Office of Research and Cooperation</p>
<p>Faculty of Social and Political Sciences</p>
<p>Universitas Gadjah Mada</p>
<p>Mobile: 085292043143</p>
<p><strong>#KETENTUAN HIBAH PENULISAN#</strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><em>Hibah Penulisan ini bisa diikuti oleh seluruh dosen dan peneliti, baik internal maupun eksternal Fisipol UGM, dengan beberapa syarat berikut:</em></span></p>
<p style="padding-left: 30px;">1. Naskah dapat ditulis secara individual atau kolaboratif.</p>
<p>2. Naskah yang diserahkan belum pernah dipublikasikan dan tidak sedang dalam proses penerbitan dalam media apapun.</p>
<p>3. Tema naskah:</p>
<p><em>a. New Media</em></p>
<p><em> b. Perbatasan dan Keamanan</em></p>
<p><em> c. Pencapaian MDGs</em></p>
<p><em> d. Inovasi Penyelenggaraan Pemerintahan</em></p>
<p><em> e. Living with Dissaster</em></p>
<p>4. Lebih diutamakan naskah yang bersifat multidisipliner.</p>
<p>5. Publikasi naskah terpilih menjadi hak Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM.<span id="more-264"></span></p>
<p>Pedoman Penulisan Naskah</p>
<p>1. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris dengan panjang antara 5000-6000 kata.</p>
<p>2. Naskah wajib disertai dengan abstrak berbahasa Inggris untuk naskah berbahasa Indonesia, dan berbahasa Indonesia untuk naskah berbahasa Inggris (panjang abstrak 100-125 kata).</p>
<p>3. Ketentuan penulisan lebih lanjut dapat didownload di <a title="www.fisipol.ugm.ac.id" href="http://www.fisipol.ugm.ac.id/">www.fisipol.ugm.ac.id</a> atau menghubungi panitia di email <a href="mailto:jspugm@gmail.com">jspugm@gmail.com</a>.</p>
<p>Batas Waktu Pengumpulan Naskah</p>
<p>1. Naskah diterima paling lambat tanggal 20 Juni 2011 dalam bentuk Ms.Word dikirim ke <a href="mailto:jspugm@gmail.com">jspugm@gmail.com</a>.</p>
<p>2. Naskah disertai dengan:</p>
<p>a. surat pernyataan belum pernah diterbitkan dan sedang dalam proses penerbitan di tempat lain, bukan merupakan hasil plagiasi, terjemahan, atau reproduksi dari tulisan lain, dan menjunjung tinggi kaidah-kaidah penulisan akademik.</p>
<p>b. CV</p>
<p>3. Naskah terpilih diumumkan selambat-lambatnya 20 Juli 2011 melalui website Fisipol UGM (<a title="www.fisipol.ugm.ac.id" href="http://www.fisipol.ugm.ac.id/">www.fisipol.ugm.ac.id</a>).</p>
<p>Info lebih lanjut via <a href="http://www.facebook.com/event.php?eid=222730354405410">Faceboo</a>k.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://immugm.web.id/2011/06/09/hibah-fisipol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi</title>
		<link>http://immugm.web.id/2011/03/09/review-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi/</link>
		<comments>http://immugm.web.id/2011/03/09/review-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 09:19:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IMM UGM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah berdarah]]></category>
		<category><![CDATA[wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://immugm.web.id/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[oleh M. Zulfi Ifani* “Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasai, dan Ahmad) Data Buku Penulis: Syaikh Idahram Penerbit: Pustaka Pesantren (Grup LKIS) Tahun Terbit: 2011 Harga Netto: 50.000 Ketika akan memulai menulis review buku ini saya sedikit ragu. Ada sedikit ragu untuk bersiap menghadapi serangan atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="background-color: #ffffff;"> oleh M. Zulfi Ifani*</span></p>
<p><em><img class="alignleft" title="sejarah berdarah salafi wahabi" src="http://zulfiifani.files.wordpress.com/2011/03/sejarah-berdarah-sekter-salafy-wahabi.jpg" alt="" width="237" height="368" />“Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala” </em></p>
<p>(HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasai, dan Ahmad)</p>
<blockquote><p><strong>Data Buku</strong></p>
<p>Penulis: Syaikh Idahram</p>
<p>Penerbit: Pustaka Pesantren (Grup LKIS)</p>
<p>Tahun Terbit: 2011</p>
<p>Harga Netto: 50.000</p></blockquote>
<p>Ketika akan memulai menulis review buku ini saya sedikit ragu. Ada sedikit ragu untuk bersiap menghadapi serangan atau bahkan hujatan dari kelompok Salafi yang kebakaran jenggot melihat kelompok mereka dikritik sedemikian rupa. Saya kira sudah jadi identitas bagi kelompok Salafi untuk ringan lisan mengkafirkan, membid’ahkan dan menyesatkan orang/kelompok yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka.<span id="more-253"></span></p>
<p>Buku ini saya temui di pameran buku di Jogja Expo Center beberapa hari lalu. Ditulis oleh seorang penulis Syaikh Idahram (yang saya sayangkan, biografi singkat penulis tidak dijelaskan sedikitpun di buku ini. Sepertinya ini nama pena). Selain penulis tersebut, buku ini juga di-endorser oleh beberapa tokoh kompeten yaitu: KH. Arifin Ilham (Pimpinan Majelis Dzikir Adz Zikra), KH. DR. Ma’ruf Amien (Ketua MUI) dan Prof. Said Agil Siraj (Ketua Umum PBNU).</p>
<p>KH. Ma’ruf Amien misalnya menyatakan bahwa “Buku ini layak dibaca oleh siapa pun. Saya berharap setelah membaca buku ini, seorang muslim meningkat kesadarannya, bertambah kasih-sayangnya, rukun dengan saudaranya, <strong>santun dengan sesama umat, lapang dada dalam menerima perbedaan</strong> dan adil dalam menyikapi permasalahan.”</p>
<p><strong>Ringkasan, Sangat Ringkas </strong></p>
<p>Adapun buku ini terbagi ke dalam 6 bab pembahasan. <strong>Bab pertama, bercerita tentang seluk beluk Salafi</strong>. Saya mencatat bahwa berdirinya kelompok (atau sekte menurut penulis buku) tidak lepas pula dari kepentingan ekonomi-politik duet Muhammad bin Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab untuk melepaskan diri dari Kekhalifahan Turki Utsmani dan mendirikan negara/pemerintahan baru. Terbukti hari ini, dinasti Raja Saudi didukung pewaris madzhab Salafi Wahabi bergandengan tangan duduk satu meja dengan pihak barat dalam banyak hal.</p>
<p><strong>Bab kedua, bercerita tentang sejarah kejahatan Salafi</strong>. Susah untuk dipercaya, dan mungkin memang harus dikonfirmasi terlebih lebih lanjut. Tapi, data dan fakta yang disampaikan penulis cukuplah kuat untuk membuktikan tuduhan kejahatan ini. Beberapa peristiwa terkini, seperti pembantaian jamaah haji dari Yaman (tahun 1921) sejumlah hampir 1000 orang. Juga jamaah haji dari Iran (tahun 1986), sedikitnya 329 orang tewas dan ribuan lainnya terluka. Anda tahu kenapa jamaah Iran dibantai? Jawabannya karena mereka berdemo melaknat negeri-negeri barat. Bagaimana pendapat anda? Kalau anda tidak merasa aneh dan miris, justru saya akan mempertanyakan ke-Islaman anda&#8230;</p>
<p><strong>Bab ketiga, bercerita tentang hadits-hadits Rasul tentang Salafi</strong>. Ada beberapa hadits yang diangkat, akan tetapi Hadits Bukhari, Muslim, dan Hakim sepertinya cukup mewakili: <em>“Akan terjadi di tengah umatku perbedaan dan perpecahan. Akan muncul suatu kaum yang membuatmu kagum, dan mereka juga kagum terhadap diri mereka sendiri. Namun orang-orang yang membunuh mereka lebih utama di sisi Allah daripada mereka. Mereka baik perkataannya, namun buruk perbuatannya. Mereka mengajak kepada kitab Allah, tetapi tidak mewakili Allah sama sekali. Jika kalian menjumpai mereka, maka bunuhlah.”</em></p>
<p>Saya kira kalau kelompok umat Islam lain konsisten bertindak secara tekstual (seperti yang dipraktekkan Salafi), bisa jadi kelompok Salafi sudah dibunuh sejak dulu –tidak akan ada yang rugi saya kira. Akan tetapi, saya kira sebagian umat Islam lebih cerdas dan arif dalam melihat perbedaan sehingga tidak gegabah dan bodoh dalam bertindak.</p>
<p><strong>Bab keempat, bercerita tentang fatwa-fatwa yang menyimpang dari Salafi Wahabi</strong>. Seperti biasa yang kita tahu, bahwa fatwa-fatwa mereka seringkali otoriter dan bila tidak dilaksanakan lalu kuasa bahasa bermain (sesat, kafir, bid’ah, boikot sampai halal darahnya). Saya heran hari seperti ini sempat-sempatnya memfatwakan haramnya belajar bahasa selain bahasa arab, gila bukan? Menurut Salafi belajar bahasa selain arab adalah bentuk <em>tasyabbuh kuffar</em> (menyerupai orang-orang kafir). Entah dimana akal sehat ditaruh pada fatwa ini. Padahal bahasa adalah ilmu alat yang amat penting, tanpa bahasa ilmu tidak akan pernah menyebar luas, dakwah pun hanya akan terjepit di lokal tertentu.</p>
<p>Selain fatwa aneh haram belajar bahasa lain, ada juga fatwa-fatwa janggal lain seperti: haram membawa jenazah dengan mobil, ucapan hari raya adalah bid’ah dan sesat, dsb.</p>
<p><strong>Bab kelima, bercerita tentang kerancuan konsep dan manhaj Salafi</strong>.  Inti dari bab ini kurang lebih senada dengan buku Prof. Said Ramadhan Al Buthi <em>Assalafiyyah Marhalatun Zamaniyyatun mubârakatun lâ Madzhabun Islâmiyyun </em>yang menyatakan bahwa Salafi pada dasarnya hanyalah sebuah fase sejarah bukan madzhab. Ada dua argumen yang harusnya dijadikan catatan: <em>Pertama</em>, bahwa kaum Salaf pun ketika itu tidak selalu seragam dalam menghadapi permasalahan. Adalah suatu kejanggalan ketika sekarang harus diseragamkan, atau jangan-jangan keseragaman ini bukan muncul dari kaum Salaf tapi justru dari pemaksaan ajaran Muhammad ibnu Abdul Wahab??</p>
<p><em>Kedua</em>,  kelompok Salafi begitu gencar mengkampanyekan anti taqlid dan madzhabiyah (Syafii, Hanbali, Hanafi dan Malik). Sayangnya, mereka tidak konsisten! Justru mereka sendiri sangat taqlid terhadap ulama mereka seperti Syekh bin Baz, Syekh bin Utsaimin, Syekh bin Fauzan, dll. Lucu bukan?? Lucu sekali&#8230;</p>
<p><strong>Epilog<em></em></strong></p>
<p>Hari ini perbedaan yang sifatnya <em>furuiyah</em> seharusnya tidak dihadapi dengan semangat bid’ah-membid’ahkan atau bahkan kafir-mengkafirkan. Itu terlalu jauh dan kasar terhadap sesama umat Islam. Kalau konsisten dengan Salaf, seharusnya akhlak Rasul mereka junjung tinggi, bukan justru akhlak Khawarij yang gemar menuduh kafir, bid’ah dan sesat.</p>
<p>Pada akhirnya, hari ini sudah jelas siapa musuh Islam. Sudah jelas siapa yang harus kita lawan bersama-sama. Jangan sampai kelompok anti Islam, dari Zionis maupun barat terus menertawai umat Islam yang lebih senang ribut di internal alih-alih mensolidkan diri.<strong></strong></p>
<p><strong>*</strong>Ketua Umum IMM UGM 2009-2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://immugm.web.id/2011/03/09/review-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketakutan Dalam Beragama</title>
		<link>http://immugm.web.id/2011/03/07/243/</link>
		<comments>http://immugm.web.id/2011/03/07/243/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Mar 2011 15:50:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IMM UGM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://immugm.web.id/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Muhammad Farid Alwajdi* Hidup yang Baik adalah Dasar Hukum yang Baik” (Satjipto Rahardjo) Suatu ketika saya melihat di salah satu media tentang dua profesor hukum sedang berdebat tentang peraturan-perundang undangan. Yang satu mempertahankan sifat positivistik dari hukum. Artinya apa yang tertulis di dalam teks hukum maka itulah hukum yang sedang berlaku. Sedangkan profesor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Oleh : Muhammad Farid Alwajdi*</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong>Hidup yang Baik adalah Dasar Hukum yang Baik”</strong></em><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>(Satjipto Rahardjo)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika saya melihat di salah satu media tentang dua profesor hukum sedang berdebat tentang peraturan-perundang undangan. Yang satu mempertahankan sifat positivistik dari hukum. Artinya apa yang tertulis di dalam teks hukum maka itulah hukum yang sedang berlaku. Sedangkan profesor yang satu lagi menggunakan pendekatan progresif. Yaitu memandang hukum bukan hanya se<strong> </strong>bagai teks namun juga perilaku masyarakat yang berjalan itulah yang disebut hukum</p>
<p style="text-align: justify;">Boleh dikatakan aliran positivistik ini sangat kaku kepada yang namanya teks. Apa yang tertulis dalam teks tersebut maka itulah hukum tanpa memandang motivasi atau unsur perilaku manusia. Dengan kata lain manusia harus mematuhi segala teks yang tertulis. Sedangkan aliran progresif lebih mementingkan kepada moral. Hukum hanya dianggap sebagai sarana menuju kebahagian dan menganggap teks hukum ada logikanya. Aliran ini sepakat bahwa sebelum membaca yang namanya teks hukum, orang perlu tahu ilmu sejarah, semiotika, psikologi, kesehatan, politik dan lain-lain. Sehingga teks harus dibaca sesuai konteksnya.<span id="more-243"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Perdebatan itu muncul karena ada seorang miskin yang terpaksa mencuri sekaleng susu demi anaknya. Problemnya klasik, gk punya uang! Profesor yang beraliran positivistik menyatakan pencuri ini harus dihukum dan dijerat dengan pasal-pasal yang ada dalam KUHP. Dia tidak peduli latar belakang atau motivasi dari si miskin tadi kenapa dia harus mencuri. Dalilnya Pencuri tetaplah pencuri.</p>
<p style="text-align: justify;">Profesor yang kedua, menganggap bahwa pencuri ini tidak layak dihukum karena kemiskinan yang begitu hebat menderanya. Profesor ini tahu bahwa kebutuhan gizi bagi sang bayi sangatlah penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu atas dasar ilmu kedokteran dan faktor psikologilah profesor hukum ini malah mengabaikan undang-undang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembaca yang dikasihi tuhan, apa yang ada dalam pikiran anda ketika membaca kasus tersebut? Kasus ini sangatlah sering kita jumpai di sekitar kehidupan kita. Mungkin karena faktor ini jugalah agama menjadi simbol yang sangat menjual terjadinya konflik ideologi. Perbedaan persepsi tentang keyakinan seharunya bisa diatasi dengan dialog secara berkesinambungan tanpa perlu melibatkan konflik secara fisik. Kebanyakan orang menganggap bahwa agama merupakan seperangkat peraturan yang harus ditaati oleh pemeluknya. Paradigma ini adalah paradigma yang sangat populer di kalangan yang menyebut dirinya beragama. Agama dipandang oleh mereka sebagai persoalan yang <em>The Do’s and The Don’ts</em>. Agama adalah urusan boleh atau tidak boleh, halal dan haram.</p>
<p style="text-align: justify;">Paradigma seperti ini tentu saja tidak salah. Paradigma ini hanya kurang lengkap. Agama memang mengatur halal dan haram. Akan tetapi memahami agama seperti ini berarti mereduksi agama itu sendiri menjadi seperangkat minimal yang buat apa dikaji lagi karena memang semuanya sudah tertulis secara tekstual dalam kitab-kitab suci. Dengan cara pandang ini agama hanyalah sebagai pembatas kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal Spirit agama sangat jauh lebih besar dari pada itu. Spirit agama adalah untuk mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Jika kita hanya menggunakan pendekatan halal dan haram, pendekatan ini khas dari ciri hukum yang positivistik. Pendekatan yang membuat seseorang merasa terpaksa karena memang sifat hukum adalah memaksa. Hal ini tentu saja membuat orang tidak berperilaku secara “suka rela”. Orang tidak melakukan perbuatan tersebut bukan karena suatu kebutuhan namun karena sebuah ketakutan. Jika ditanya alasannya biasanya mereka hanya menjawab “ Ya itu yang tertulis dalam kitab masa’ kita mau membantah tuhan”</p>
<p style="text-align: justify;">Pendekatan hukum positivistik ini cenderung mengikat orang, padahal sebagai manusia yang justru dicari adalah kebebasan. Oleh karena itu, orang cenderung mengakali hukum tersebut dan mencari peluang untuk lolos dari jerat-jerat teks hukum. Sama halnya seorang koruptor, sebelum dia melakukan tindakannya dia lihat dulu undang-undangnya. Jika memungkinkan adanya celah maka dia akan memanfaatkan kelemahan bahasa manusia tersebut untuk melakukan korupsi. Dan ketika akan dijerat oleh KUHP dia akan bilang <em>khan gk ada peraturannya.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Menggunakan pendekatan hukum positivistik dalam agama memiliki kelemahan mendasar. Kelemahan yang paling utama adalah faktor konsekuensi. Konsekuensinya biasanya berupa jangka panjang yaitu menanyakan tentang akhirat. Kalau kita berlaku baik maka akan  diganjar surga dan  kalau berlaku buruk akan diberi neraka.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Lantas kapan neraka dan surga itu ada? Masih sangat lama bukan. Padahal salah satu sifat manusia adalah menginginkan suatu sifat yang instan.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Agama adalah Kebutuhan</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Suatu pendekatan yang berbeda dalam memahami agama adalah melalui pendekatan kesadaran. Agama diposisikan sebagai alat bantu manusia untuk mencapai kebahagiaan bukan sebagai pembatas kebebasan. Dengan cara pandang seperti ini manusia dibimbing supaya menganggap agama adalah suatu kebutuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Analoginya begini, adakah orang yang mengharuskan anda makan? Maukah anda dipaksa makan? Tentu tidak, bukan? Kita makan karena kita butuh, ada atau tidak adanya makanan kita tetap memerlukannya sebagai bagian dari kehidupan kita. Hal ini juga akan berkaitan dengan konsekuensi yang dibawa yaitu jika anda tidak makan maka anda akan lapar, jika anda lapar maka anda akan mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Agama seharusnya  diajarkan seperti ini sehingga dia merasa akan kebutuhan yang mendalam jika tidak melaksanakan kewajiban agamanya. Orang akan stress dan hatinya tidak tenang ketika dia melakukan perbuatan buruk bukan lantaran karena mendapat dosa namun lebih kepada pemahaman bahwa hidupnya akan susah karena dikejar bayang-bayang keburukannya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Spiritualitas adalah jiwa dalam sebuah agama</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pendekatan kesadaran juga akan membawa kita ke dalam dasar agama itu sendiri, yaitu spiritualitas. Dasar dari adanya spiritualitas adalah faktor kebutuhan (needs). Kebutuhan ini datang dari dalam bukan dari luar. Spiritualitas merupakan bagian terpenting dalam beragama dia merupakan jiwanya agama. Namun sayang sekali dalam praktiknya untuk zaman sekarang ini. Spiritualitas seakan-akan terlepas dari agamanya. Agama tereduksi menjadi sekadar kegiatan-kegiatan yang sifatnya seremonial. Banyak orang ketika melihat <em>club</em> malam, tempat prostitusi,tempat judi, dan aliran-aliran yang dikatakan oleh sebgaian orang sesat dalam beragama tiba-tiba saja semangat keagamaan kita sangat tinggi sekali. Akan tetapi ketika melihat masalah kemiskinan dan penindasan kita semua terdiam. Akhirnya ketika tulisan ini dibuat saya teringat akan ucapan pak tjip “<strong>Hidup yang Baik adalah Dasar Hukum yang Baik”</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">*<strong><em>Sekbid Keilmuan IMM Ibnu Khaldun Komisariat UGM, Mahasiswa Fakultas Hukum</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://immugm.web.id/2011/03/07/243/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Annual Essay Competition UGM 2011</title>
		<link>http://immugm.web.id/2011/03/05/annual-essay-competition-ugm-2011/</link>
		<comments>http://immugm.web.id/2011/03/05/annual-essay-competition-ugm-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2011 17:03:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IMM UGM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetisi ANESC 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://immugm.web.id/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Subdirektorat PPKB Direktorat Kemahasiswaan UGM kembali menyelenggarakan Annual Essay Competition (ANESC) 2011 dengan tema besar BERSAHABAT DENGAN ALAM, WASPADA TERHADAP BENCANA. Dengan sub tema: 1) Fenomena Alam: Berkah atau Kutukan? 2) Aplikasi Ilmu dan Teknologi dalam Penanggulangan Bencana 3) Kontribusi Nyata Mahasiswa dalam Manajemen Bencara 4) Menyikapi Bencana dengan Kearifan Lokal 5) Kebijakan Penanganan Bencana: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Subdirektorat PPKB Direktorat Kemahasiswaan UGM kembali menyelenggarakan Annual Essay Competition (ANESC) 2011 dengan tema besar BERSAHABAT DENGAN ALAM, WASPADA TERHADAP BENCANA.</p>
<p>Dengan sub tema:<br />
1) Fenomena Alam: Berkah atau Kutukan?<br />
2) Aplikasi Ilmu dan Teknologi dalam Penanggulangan Bencana<br />
3) Kontribusi Nyata Mahasiswa dalam Manajemen Bencara<br />
4) Menyikapi Bencana dengan Kearifan Lokal<br />
5) Kebijakan Penanganan Bencana: Bagaimana Sebaiknya?<span id="more-234"></span></p>
<p>Kompetisi terbagi dalam dua kategori: bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.</p>
<p>Syarat Penulisan:<br />
1) Tercatat sebagai mahasiswa aktif UGM (S1/D3)<br />
2) Judul bebas sesuai dengan tema dan sub tema di atas (tuliskan subtema yang dipilih pada pojok kiri atas lembar pertama essay)<br />
3) Tulisan dalam format essay ditulis dalam bahasa yang komunikatif dengan menunjukkan kadar reflektif dan intensitas yang tinggi terhadap problematika yang dibahas<br />
4) Naskah merupakan karya asli dan belum pernah dipublikasikan<br />
5) Naskah diketik dengan menggunakan huruf Times New Roman ukuran 12, spasi 1,5, ditulis pada kertas kwarto A4 dengan lebar margin 2,5 cm<br />
6) Panjang essay 5-7 halaman<br />
7) Mahasiswa yang sudah pernah memenangkan ANESC (Juara I, II dan III) tahun sebelumnya tidak berhak menjadi pemenang</p>
<p>Hadiah:<br />
Setiap kategori (Indonesia dan Inggris) mendapat:<br />
Juara I 	: Tropi dan Rp. 1.000.000,-<br />
Juara II	: Tropi dan Rp. 750.000,-<br />
Juara III	: Tropi dan Rp. 500.000,-<br />
10 juara harapan masing-masing Rp. 100.000,-<br />
Semua peserta akan mendapatkan sertifikat keikutsertaan</p>
<p>Penyerahan Naskah:<br />
•	Batas akhir pengumpulan naskah: Jum’at, 25 Maret 2011 pukul 12.00 WIB di Subdirektorat PPKB, Rektorat UGM sayap selatan lantai II<br />
•	Peserta harus menyerahkan naskah essay dalam bentuk softcopy (CD) satu buah dan hardcopy sejumlah rangkah empat disertai dengan biodata lengkap dan fotocopi KTM, dimasukkan dalam amplop coklat bertuliskan “Annual Essay Competition 2011”, Bahasa Indonesia atau Inggris di sebelah kiri atas.<br />
•	Pengumuman pemenang pada Jum’at 29 April 2011 melalui website PPKB.<br />
•	Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.</p>
<p>Ayo, immawan dan immawati merahkan UGM dengan karya-karyamu!!</p>
<p>Informasi: Hubungi Lembaga Media Opini IMM Ibnu Khaldun Ghifari Yuristiadhi (085740079846)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://immugm.web.id/2011/03/05/annual-essay-competition-ugm-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMM BSKM SLEMAN VS GMNI YOGYAKARTA DI TVRI JOGJA</title>
		<link>http://immugm.web.id/2011/02/25/imm-bskm-sleman-vs-gmni-yogyakarta-di-tvri-jogja/</link>
		<comments>http://immugm.web.id/2011/02/25/imm-bskm-sleman-vs-gmni-yogyakarta-di-tvri-jogja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Feb 2011 15:53:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IMM UGM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://immugm.web.id/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Ghifari Yuristiadhi Senin (14/2) yang lalu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah cabang Bulaksumur Karangmalang (BSKM), Sleman dihadirkan dalam siaran acara “Berani Bicara” di studio TVRI Jogja. Siaran acara “Berani Bicara” TVRI Jogja yang berformat debat itu mengangkat tema “Benarkah gerakan mahasiswa stagnan?” Sebagai lawan bicara, TVRI Jogja menghadirkan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Yogyakarta. Isu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: Ghifari Yuristiadhi</p>
<p>Senin (14/2) yang lalu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah cabang Bulaksumur Karangmalang (BSKM), Sleman dihadirkan dalam siaran acara “Berani Bicara” di studio TVRI Jogja. Siaran acara “Berani Bicara” TVRI Jogja yang berformat debat itu mengangkat tema “Benarkah gerakan mahasiswa stagnan?” Sebagai lawan bicara, TVRI Jogja menghadirkan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Yogyakarta.<br />
Isu gerakan mahasiswa yang stagnan diangkat pada kesempatan itu dengan melihat realita bahwa gerakan mahasiswa hari ini memang terkesan mandeg. Apabila dibandingkan dengan gerakan mahasiswa yang bergolak pada dekade 1960’an dan 1990’an, ada perbedaan signifikan dengan gerakan mahasiswa hari ini. Perbedaan itu tampak dengan sinyalemen bahwa gerakan mahasiswa hari ini sangat ego sektoral, tidak bersatu dan berjalan sendiri-sendiri.<span id="more-232"></span></p>
<p>Ajar Pradika Ananta Tur, yang menjadi juru bicara IMM BSKM membantah statemen itu. Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris FBS UNY itu menyatakan bahwa gerakan mahasiswa hingga hari ini masih eksis. Hal ini dibuktikan dengan gerakan intelektual yang menjadi ruh gerakan mahasiswa yang sesungguhnya masih terus bergulir. Salah satu wujud gerakan intelektual yakni menyampaikannya di media yang bisa dipastikan akan bisa menjadi opini publik. Oleh karena itu, penguasaan media oleh mahasiswa seharusnya dilakukan dan itu yang sedang dilakukan.</p>
<p>GMNI cabang Yogyakarta yang menjadi pihak yang menyatakan bahwa gerakan mahasiswa memang mandeg, melalui juru bicaranya Herman Dirgantara, tetap bersikeras dengan statemen itu. Dia berargumen bahwa seharusnya gerakan mahasiswa dipahami lebih tekstual, sebagai gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa. Targetnya jelas yakni masyarakat atau kaum marhaen. Hari ini, tambahnya, gerakan mahasiswa terkesan tanpa misi bersama dan hanya bergerak sendiri-sendiri. Hal itu bisa diibaratkan dengan petani yang mencangkul di tempat dan tidak bergerak.</p>
<p>Dr. Ir. Bambang Supriyadi, CES., DEA, koordinator Kopertis Wilayah V berkesempatan menjadi narasumber ahli pada kesempatan itu. Bambang menyatakan, gerakan mahasiswa hari ini sebenarnya tidak benar-benar berhenti. Hal itu masih tampak ketika memang muncul isu-isu besar yang menjadi alat pemersatu gerakan, walaupun itu berupa gerakan sosial, sebut saja penanganan bencana Merapi. Berada diseberang pendapat, Arif Rahman Hakim, anggota DPRD I DIY Komisi D menyatakan bahwa gerakan mahasiswa saat ini benar-benar mandeg. Harusnya gerakan mahasiswa benar-benar tampil sebagai gerakan yang sebenarnya dan hasilnya tampak jelas dirasakan masyarakat.</p>
<p>Siaran acara “Berani Bicara” di studio TVRI Jogja itu dimulai dengan teriakan yel-yel dari masing-masing kubu. Yel-yel itu juga diiringi tetabuhan gendang dan galon. Immawan dan Immawati IMM Ibnu Khaldun dan Khawarizmi UGM juga ikut memeriahkan dengan mengeluarkan interupsi dan berbagi gagasan. Debat hangat itu memang masih terkesan menggantung, namun harus diterima oleh kedua belah pihak. Sesuai dengan slogan dari siaran itu yakni: kritis, sportif, argumentatif. []</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://immugm.web.id/2011/02/25/imm-bskm-sleman-vs-gmni-yogyakarta-di-tvri-jogja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Baru, Gerakan Sosial dan Perubahan</title>
		<link>http://immugm.web.id/2011/02/11/media-baru-gerakan-sosial-dan-perubahan/</link>
		<comments>http://immugm.web.id/2011/02/11/media-baru-gerakan-sosial-dan-perubahan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 09:23:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IMM UGM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://immugm.web.id/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[Oleh M. Zulfi Ifani* Beberapa hari terakhir ini, telinga dan mata kita sedang dibombardir oleh media dengan gejolak politik di kawasan Timur Tengah. Dengan motif yang secara mendasar sama: melawan tirani pemimpin otoriter yang menyengsarakan rakyat, rakyat lalu mengadakan revolusi jalanan. Sejauh ini Tunisia sudah berhasil, dengan jatuhnya Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://immugm.web.id/wp-content/uploads/2011/02/Dilarang-Media-Sosial.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-225" title="Media Sosial Dilarang" src="http://immugm.web.id/wp-content/uploads/2011/02/Dilarang-Media-Sosial.jpg" alt="Taken from SatuDunia.Net (Ashley Wirthlin)" width="210" height="202" /></a>Oleh M. Zulfi Ifani*</p>
<p>Beberapa hari terakhir ini, telinga dan mata kita sedang dibombardir oleh media dengan gejolak politik di kawasan Timur Tengah. Dengan motif yang secara mendasar sama: melawan tirani pemimpin otoriter yang menyengsarakan rakyat, rakyat lalu mengadakan revolusi jalanan. Sejauh ini Tunisia sudah berhasil, dengan jatuhnya Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali yang sudah berkuasa selama lebih dari 23 tahun. Kini pendulum revolusi tersebut sedang mengarah ke Mesir. Negeri ini selama lebih dari 30 tahun terakhir dipimpin oleh seorang Hosni Mobarak, yang sudah banyak diketahui gaya kepemimpinannya pun tidak kalah otoriter.</p>
<p>Dari sudut ilmu komunikasi. Pembicaraan lalu bergeser kepada medium perjuangan rakyat. Media baru, khususnya Facebook berperan begitu penting. Di Tunisia, Facebook menjadi tempat diskusi keresahan antar warga, sekaligus jadi medium untuk menyebarkan undangan melawan rezim. <span id="more-223"></span>Bisa jadi ini sangat benar adanya, karena pemerintah Mesir yang sedang digoyang rakyatnya kemudian memblokir Facebook, Twitter dan bahkan Youtube (Tempo Interaktif, 27 Januari 2011).</p>
<blockquote><p>Saya kemudian teringat dengan skripsi saya yang lama. Skripsi tersebut sebenarnya ingin bercerita mengenai gerakan sosial di dunia maya (judul tepatnya “Gerakan Sosial dan Media Baru: Studi Kasus <em>Gerakan</em> <em>1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad</em> di Situs Jejaring Sosial Facebook”). Tapi karena satu dan lain hal, saya terpaksa mengambil judul lain. Agak sedih, tapi mungkin ini demi kebaikan saya sendiri (#curhat).</p></blockquote>
<p>Fenomena tersebut membenarkan tesis bahwa <strong>k</strong><strong>omunikasi adalah tulang punggung dari demokrasi, karena seluruh proses demokrasi menggunakan komunikasi sebagai alatnya.</strong> Begitu pula dengan teknologi komunikasi. Karena itu, di dunia yang mengalami revolusi teknologi komunikasi, segala sesuatu dapat berubah dengan sangat cepat.</p>
<p>Fenomena media baru dan keterlibatan politik rakyat lewat perkembangan teknologi dapat dirunut dari pemikiran Everett Rogers (1986) tentang  “<em>electronic politics</em>”. Model politik ini membuat warga lebih leluasa untuk mengomentari pemerintahan. Sekaligus mampu memfasilitasi komunikasi antar warga untuk berbagi pendapat tentang suatu permasalahan politik. Bahkan tidak hanya warga, para aktor politik pun dapat menggunakan media baru untuk menyuarakan opininya. Sederhananya, semua bebas dan terbuka untuk berkomentar di wilayah media baru. Inilah era baru berpolitik!</p>
<p>Merunut ke belakang. Berbicara tentang revolusi rakyat, tentu tidak boleh dilupakan Revolusi Iran 1979 yang sudah jadi monumen abadi. Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa Revolusi Iran pun sangat bergantung pada adanya teknologi komunikasi. Banyak yang tidak tahu  bahwa di balik “perang” antara para mullah melawan Rezim Shah Iran ada perang media. Shah Iran, mirip dengan Soeharto di Indonesia, adalah model pemimpin yang memahami pentingnya mengontrol media. Sehingga media massa ketika itu dikontrol sepenuhnya oleh rezim.</p>
<p>Sebaliknya, para mullah yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini menggunakan media-media alternatif, non media-massa. Penggunaan teknologi baru seperti telepon, rekaman tape, dan mesin foto kopi (<em>xerox</em>) menjadi senjata para mullah . Dari ketiga media alternatif itulah, serangan oposisi kepada Rezim Shah pada tahun 1978 berjalan dengan massif . Walhasil, tumbanglah rezim Shah Iran pada April 1979.</p>
<p>Peristiwa ini pula sekali lagi sejalan dengan pemikiran Rogers (1986)  yang menyatakan bahwa model komunikasi yang berbasis teknologi dan saluran interpersonal akan efektif untuk menggerakkan massa, walaupun harus berhadapan dengan media mainstream seperti televisi dan media cetak. Kekuatan tersembunyi media baru sederhananya.</p>
<p>Jo Freeman dalam <em>On The Origins of Social Movement</em> menyebutkan bahwa salah satu penggerak dari gerakan sosial adalah rangkaian krisis yang mendorong orang-orang untuk terlibat dalam gerakan. Dalam beberapa kasus gerakan sosial, eskalasi krisis lah yang menjadi alasan utama lahirnya sebuah gerakan. Di Tunisia misalnya, eskalasi krisis dimulai oleh aksi bunuh diri pemuda bernama Mohamed Bouazizi. Ketika Tunisia memanas dan berhasil menggulingkan presidennya, momentum inilah yang lalu menginisiasi terjadinya gerakan rakyat di Mesir.</p>
<p>Eskalasi krisis yang memuncak inilah yang kemudian harus segera diorganisir. Krisis pada dasarnya hanya akan mempercepat terbentuknya jaringan komunikasi. Setelah itu, individu yang berada di dalamnya tidak boleh dibiarkan bergerak sendiri-sendiri, melainkan harus dihubungkan oleh seseorang yang berpengaruh (atau memiliki wewenang). Seorang organisator ataupun pemimpin dalam sebuah gerakan menempati posisi yang signifikan, mirip posisi Amien Rais pada 1998 atau Ayatullah Khomeini 1979.  Sebagai simbol gerakan, tokoh ini akan membantu mengorganisir massa gerakan kepada suatu tujuan yang telah disepakati bersama: perubahan.</p>
<p><strong>Selanjutnya apa?</strong></p>
<p>Pada akhirnya, tujuan gerakan berupa terjadinya perubahan itulah yang harus dikejar. Di Mesir hari ini tujuannya sudah jelas: Hosni Mobarak harus mundur. Itulah kenapa meski kabinet sudah dibubarkan dan dipilih Wakil Presiden dan Perdana Menteri, massa belum berhenti bergerak dan menuntut.</p>
<p>Dari sisi media, media baru pada dasarnya hanyalah alat untuk menggalang suara. Roem Topatimasang pernah menyatakan bahwa gerakan apa pun yang muncul dari media baru sebenarnya hanyalah cikal bakal gerakan. Di sana yang terkumpul baru sebatas suara, bukan komitmen untuk bergerak bersama. Itu belum cukup.</p>
<p><strong>Karena gerakan sebenarnya bukan berada di dunia maya, tapi di dunia nyata, kawan! Terus bergerak, Mesir!</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>*Sekbid Organisasi PC IMM BSKM.</p>
<p>Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fisipol, UGM.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://immugm.web.id/2011/02/11/media-baru-gerakan-sosial-dan-perubahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gayus dalam Etika Socrates</title>
		<link>http://immugm.web.id/2010/11/18/gayus-dalam-etika-socrates/</link>
		<comments>http://immugm.web.id/2010/11/18/gayus-dalam-etika-socrates/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Nov 2010 03:59:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IMM UGM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Etika Socrates]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus Gayus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://immugm.web.id/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Muhammad Farid Alwajdi* Suatu ketika di tahun 399 SM ada seorang yang sangat terkenal dengan kepandaiannya tentang filsafat dan ilmu politik yang dijebloskan ke penjara dan akan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Heliast (Court of Heliast). Dia adalah Socrates, orang yang belajar langsung dari Plato sedangkan plato sendiri merupakan Bapak Filsafat Yunani Kuno. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p style="text-align: justify;">Oleh : Muhammad Farid Alwajdi*</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu  ketika di tahun 399 SM ada seorang yang sangat terkenal dengan  kepandaiannya tentang filsafat dan ilmu politik yang dijebloskan ke  penjara dan akan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Heliast (Court of  Heliast). Dia adalah Socrates, orang yang belajar langsung dari Plato  sedangkan plato sendiri merupakan Bapak Filsafat Yunani Kuno. Tuduhan  yang dikenakan kepada Socrates ada dua.<strong> Pertama</strong>, Socrates menolak menyembah dewa resmi yunani dan yang<strong> Kedua</strong>, Dia dianggap meracuni pikiran anak muda.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Menariknya  Socrates diadili oleh seluruh warga atena yang terdiri dari 501 orang.  Angka ganjil tersebut harus selalu ada untuk memastikan bahwa terdapat  kepastian hukum yang jelas. Selanjutnya orang yang merasa mempunyai  bukti bahwa orang lain melakukan kesalahan dapat dituntut maka dia dapat  menjadi jaksa. Pendek kata Setiap warga dimungkinkan untuk menjadi  hakim dan jaksa. Hal ini sangatlah wajar mengingat jumlah penduduk suatu  negara pada waktu itu hanya berjumlah ratusan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><span id="more-212"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dari  awal Socrates sudah tahu bahwa dia tidak mempunyai peluang untuk lolos  dari pengadilan Heliast artinya dia pasti akan mati karena sebagian  besar hakim dan jaksa adalah musuh Socrates. Jika para jaksa menuntut  atas tuduhan “<strong>tidak beragama</strong>”, Socrates dengan mudah menangkisnya  karena hal ini tidak berhubungan dengan pribadi mereka. Mereka kemudian  menuduh Socrates dengan “<strong>merusak pikiran anak muda</strong>” karena anak-anak mereka suka membantah bila diberi nasehat.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kemudian  ditambah lagi fakta dari ramalan kuil apollo yang menyatakan bahwa  Socrates adalah orang terpandai di Atena yang menjelaskan bahwa Socrates  adalah hadiah dari Dewa untuk penduduk Atena. Kontan saja orang-orang  yang menjadi hakim sudah tidak bisa menilai lagi secara obyektif. <em>Asas Presumption of innocences</em> dihilangkan dan etika hukum dan politik diabaikan. Keadaan di Yunani pada waktu itu sama seperti di Indonesia dewasa ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Real Laws</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin  karena adanya persamaan inilah seorang Gayus bisa dengan leluasa keluar  masuk penjara tanpa izin sama sekali padahal seperti kita ketahui rumah  tahanan yang ditempati Gayus adalah salah satu tempat tersulit yang  dapat ditembus oleh wartawan. Rumah tahanan tersebut difungsikan  biasanya menyangkut perkara yang sifatnya mass dalam konsumsi publik  sehingga tidak aneh jika penjagaanya diperketat dan kehadiran wartawan  di rutan tersebut sebisa mungkin diminimalisir.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Akan  tetapi, karena etika politik yang tidak ada dan moral yang tergadaikan  dengan uang senilai 300 juta maka sah-sah saja Rutan itu sebagi tempat  formalitas bagi seorang Gayus. Heran saya malah sejak awal!  ketika  ditangkap oleh aparat penegak hukum ( sebelum kasus kabur tanpa izin  dari rutan ) mengapa dia begitu tenang dan selalu tersenyum ketika akan  dijebloskan penjara. Idealnya menurut Feurbach bahwa orang akan merasa  terintimidasi dengan yang namanya teks hukum (dalam hal ini KUHP). Jadi  logika yang seharusnya berjalan adalah Gayus setidak-tidaknya  memperlihatkan wajah sedih atau suram ketika akan dibawa ke sidang  pengadilan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Paradoks Etika</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Gayus  bisa melawan aparat penegak hukum dengan uangnya akan tetapi bagaimana  dengan Socrates.  Apakah Socrates akan menggunakan uangnya dengan  menyuap 50%+1 hakim yang berada di Heliast? ternyata tidak, bahkan dia  membiarkan dirinya mati. Bukan karena dia tidak memiliki uang akan  tetapi dia ingin mempertahankan ajaran tentang kebenaran yang selalu  diajarkannya. <strong>Pertanyaan yang menggelitik adalah benarkah Socrates mati konyol?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menjawabnya kita perlu menafsirkan beberapa sudut pandang yang berada dalam persidangan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Tafsiran Pertama</strong>, Etika Socrates yang tidak takut mati, bahkan kata Socrates kepada jaksa yang secara ngawur menuduhnya&#8230;” <em>A  man should take courage when about to die, and be of good hope, after  leaving this life, he will attain to the greatest good younder</em> “ (  Orang harus tabah ketika menghadapi kematian, dan patut mempunyai  harapan baik, bahwa setelah meninggalkan dunia ini dia akan memperoleh  kebaikan terbesar di dunia lain )</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Tafsiran Kedua</strong>,  yang menurut saya sangat bermanfaat dijadikan contoh adalah ketika  Socrates sedang dipenjara dan salah seorang anak muridnya bermaksud  membantu agar socrates bisa kabur dari penjara dengan menyuap para  penjaga. Akan tetapi, niat itu diketahui Socrates kemudian dia menolak  untuk kabur meski dia tahu bahwa tuduhan yang dilancarkan kepadanya  palsu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Socrates menolak untuk menggunakan uang hanya untuk <em>survive </em> padahal lawan-lawan Socrates  juga telah menggunakan uang di pengadilan  tapi dia lebih memilih mempertahankan moral yang dianggapnya benar.  Socrates rela mati untuk mendidik elite politik dan para penegak hukum  bahwa dalam melaksanakan proses politik di alam demokrasi perlu  ditekankan keterbukaan yang jujur bukan keterbukaan yang sarat  kepentingan golongan. Etika politik itu dipegang teguh oleh Socrates  meskipun dengan mengorbankan nyawanya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Mungkin  ramalan yang menyatakan Socrates adalah orang terpintar di atena adalah  benar. Socrates mengajukan pledoi ( pembelaan ) yang mengagetkan semua  pihak “ <em>Saya tidak akan mengemis agar saya diberi pengampunan, tetapi  saya akan memberikan pencerahan kepada anda tentang tugas hakim  sesungguhnya dan berusaha meyakinkan anda untuk tugas ini”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pelajaran dari Socrates dan Renungan Satjipto</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dari  uraian diatas sudah jelas bahwa Socrates  adalah salah satu peletak  dasar etika politik di negara yang sangat demokratis dimana semua orang  dapat menjadi aparat penegak hukum. Negara demokrasi yang dipelopori  Yunani ini membutuhkan proses yang panjang dan tanggung jawab yang  seutuhnya. Bahkan Obama dalam pidatonya di Indonesia menyatakan  demokrasi merupakan mekanisme yang paling tepat untuk memperjuangkan Hak  Asasi Manusia. Dan Tanggung jawab yang dimaksud adalah peraturan yang  dibuat untuk diaati bersama, yang mengutamakan <em>equality before the law </em>bukan yang tajam dibawah dan tumpul diatas.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sebagai  penutup saya akan kutipkan kata-kata Satjipto Rahardjo (Pakar Hukum  Progresif ) dengan nada geram karena sudah kebingungan menghadapi hukum  indonesia “<strong>Apakah kita harus mengganti legislatif dengan cara rakyat  membuat sendiri undang-undang yang diperlukan? Apakah kita akan  mengganti jaksa, advokat, dan hakim dengan semua rakyat untuk dijadikan  hakim, jaksa, dan lainnya” </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>*Sekbid Keilmuan IMM Ibnu Khaldun Komisariat UGM, Mahasiswa Fakultas Hukum</em></strong></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://immugm.web.id/2010/11/18/gayus-dalam-etika-socrates/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Move over protester, Obama is here to rock</title>
		<link>http://immugm.web.id/2010/11/13/move-over-protester-obama-is-here-to-rock/</link>
		<comments>http://immugm.web.id/2010/11/13/move-over-protester-obama-is-here-to-rock/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 15:39:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IMM UGM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://immugm.web.id/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[erhaps my fellow students need to take account Obama’s double students exchange program and new education partnership before they go to street. Just to make sure that they are intelligent.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Author: Muhammad Ghufron Mustaqim</p>
<p>Having been twice reversed, Obama finally visited Indonesia in less than 24 hours trip (9-10/11). Together with first lady Michelle Obama, the 44<sup>th</sup> US President landed on Halim Perdana Kusuma Airport on Tuesday afternoon after a previous visit to “aal iz well” country, India. What does this signifies to Indonesia, specifically to Indonesian student? Of course a part from delight being visited by this sexiest president.</p>
<p>Ever been to US? It’s basically an admirable countryside for you to draw closer. It is dirt free from unmanaged garbage and junk, which they often come across in every meter of our footstep in our motherland. You can glimpse white, black, and colored people coming from every corner in this world. For you who love shopping, or window-shopping, US offers you with various attractive and excellent stores, which provide everything ever produced. What’s more, historical sites, with their admirable and splendid construction, should wave our astonishment to this country. FYI, I desperately dream to be there almost immediately, and you must as well, must not you?<br />
<span id="more-205"></span><br />
Happily, Obama has been here not only to sign intricate comprehensive economic partnership with Pak Be Ye, but also to promise us larger likelihood to go to US for exchange. He has undertaken to double the number of exchange program for either Indonesian or American student. Fulbright, Community College Initiative, the State Department&#8217;s Home-language training, and student advising services, are among the programs will be intensified.</p>
<p>In addition, cooperation between universities in both countries will be further promoted in the five years to come.  Next summer, U.S. invited the Indonesian Minister of Education to the United States to meet in the US-Indonesia Higher Education Summit. The meeting will discuss educational cooperation. Is it great news? At least, for desperate student just like me.</p>
<p>However as always, many of my respected fellow students went to street in protest to US Policy. Harnessing the visit of Obama, they complaint for almost every US Policy: from trade issue, US foreign policy, its leadership in world arena, the relation between Indonesia, and until ongoing war on terrorism. The burning of US’s flags might symbolize their anger.</p>
<p>I very appreciate these friends as they sacrifice the time to design the action at night when me myself enjoying the nighttime quiescent on bed. They were okay going outdoor under hot sunbeams just to make sure that they standing in the crowds, for moral call as they said.</p>
<p>Nevertheless, to be honest, I am irritated with all of this. I am afraid that these students are more to be negative person, rather than critical. The habit of going to street they possess to complain for everything is a substantial proof to assert that they see everything negatively and pessimistically.  The different of being critical and negative is that being critical means that we have to look some case from a number of perspectives—acknowledging and respecting the goodness, and trying to come with solutions as an effort to rehearse the weakness. This is unlike being negative, which see everything as bad, pointing finger and blaming to others when they are not satisfied—who protest like child crying to the mothers in his query to toys.  When he does not get it, he is angry.</p>
<p>For me, critical is the way for smart meanwhile negative is the way for unintelligent. Perhaps my fellow students need to take account Obama’s double students exchange program and new education partnership before they go to street. Just to make sure that they are intelligent. I hope that they did!</p>
<p><em>(The writer is a vigorous International Service member of Rotaract Club of Jogja Merapi District 3400 Indonesia, majoring on International Relations Studies UGM, 2009. The opinions expressed are his own)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://immugm.web.id/2010/11/13/move-over-protester-obama-is-here-to-rock/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbah Maridjan dan Peran Opinion Leader</title>
		<link>http://immugm.web.id/2010/11/06/mbah-maridjan-dan-peran-opinion-leader/</link>
		<comments>http://immugm.web.id/2010/11/06/mbah-maridjan-dan-peran-opinion-leader/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Nov 2010 01:02:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IMM UGM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Mbah Maridjan]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion Leader]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://immugm.web.id/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[oleh M. Zulfi Ifani Meninggalnya Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi, pada erupsi Selasa (26/10) menyisakan duka dan juga pertanyaan dari berbagai kalangan. Para tetangga menilai beliau sebagai sosok pemimpin yang sederhana dan bertanggungjawab, sebagian besar media pun tidak jauh berbeda dalam menilai. Akan tetapi, tak sedikit pula yang mengkritik bahwa sikap beliau yang keras [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">oleh M. Zulfi Ifani</p>
<p><a href="http://immugm.web.id/wp-content/uploads/2010/11/Mbah-Maridjan.jpg"><img class="size-medium wp-image-229 alignright" title="Mbah Maridjan" src="http://immugm.web.id/wp-content/uploads/2010/11/Mbah-Maridjan-300x236.jpg" alt="" width="240" height="189" /></a>Meninggalnya Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi, pada erupsi Selasa (26/10) menyisakan duka dan juga pertanyaan dari berbagai kalangan. Para tetangga menilai beliau sebagai sosok pemimpin yang sederhana dan bertanggungjawab, sebagian besar media pun tidak jauh berbeda dalam menilai. Akan tetapi, tak sedikit pula yang mengkritik bahwa sikap beliau yang keras kepala dengan mengabaikan paksaan untuk segera turun menyebabkan korban yang tak sedikit. Tak hanya beliau yang kehilangan nyawa, namun juga belasan warga desa lainnya yang <em>sami’na wa atho’na </em>atas segala keputusan beliau.</p>
<p>Dalam dunia komunikasi, tindakan sebagian warga yang lebih percaya dengan Mbah Maridjan ketimbang pemerintah dapat dianalisis, salah satunya dengan pendekatan opinion leader. <span id="more-201"></span>Opinion leader yang dimaksud adalah pemimpin pendapat, pemuka agama (kyai) atau bahkan tetua adat. Mereka bisa jadi tidak memiliki posisi struktural apapun dalam pemerintahan. Namun sikap, tindakan dan pembicaraan mereka sangat berpengaruh terhadap keputusan dan tindakan para <em>audience</em> (atau dalam pendekatan opinion leader disebut <em>follower</em>/pengikut).</p>
<p><strong>Opinion Leader dalam Masyarakat Desa</strong></p>
<p>Dalam pemahaman komunikasi ala Laswell, komunikasi merupakan sebuah sistem yang didirikan oleh berbagai unsur, salah satunya adalah “who” (atau komunikator, pemberi pesan). Tidak semua komunikator (unsur “who”) membawa efek pesan yang sama. Efek pidato yang disampaikan oleh Presiden SBY tentu berbeda dengan yang saya ucapkan. Beda orang, beda pula efeknya.</p>
<p>Orang-orang yang membawa efek pesan yang kuat terhadap audiensnya,  seringkali disebut dengan opinion leader. Umumnya opinion leader lebih berperan di lingkungan pedesaan. Lingkungan ini cenderung masih tradisional dan minim akses media. Hal ini berkebalikan dengan daerah perkotaan yang lebih modern dan tinggi aksesnya terhadap media. Sehingga opini di daerah perkotaan acapkali lebih banyak tercipta dari persinggungan masyarakatnya dengan media.</p>
<p>Opinion leader yang ada di desa seperti tetua adat, tentu bukanlah orang yang serba tahu. Akan tetapi, mereka diakui oleh masyarakatnya sebagai orang yang peka dan <em>in group</em> terhadap berbagai permasalahan yang ada di desanya. Secara relatif mereka adalah tempat meminta pendapat dan nasehat para warga. Mereka juga dapat mempengaruhi sikap dan tingkah warga untuk bertindak dalam cara tertentu (Nurudin, 2007:166-169).</p>
<p>Alasan lain yang menyebabkan opinion leader begitu dihormati dan ditaati oleh para warganya adalah status sosialnya yang tinggi. Dengan status ini, ia akan selalu memelihara nilai-nilai serta norma-norma kelompoknya sebagai syarat minimal untuk memelihara statusnya (Homans, 1961, dalam Nurudin, 2007:161-162). Dalam kasus Mbah Maridjan, titah dari Sri Sultan HB IX untuk menjaga Merapi adalah status sosial tersebut. Amatlah wajar bilamana status tersebut beliau pertahankan mati-matian.</p>
<p>Bila ditelisik lebih luas, tidak hanya kisah Mbah Maridjan yang mengingatkan akan peran opinion leader. Puluhan tahun lalu, keberhasilan program keluarga berencana (KB) di era Presiden Soeharto pun sedikit-banyak berkat jasa para opinion leader ketimbang media massa. Begitu pula dengan pembangunan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) yang sempat terbengkalai begitu lama, terjadi juga karena penolakan kelompok opinion leader dalam hal ini para kyai. Tentunya masih banyak kisah lainnya yang bisa menunjukkan signifikansi peran opinion leader.</p>
<p><strong>Akhir Cerita Opinion Leader</strong></p>
<p>Pemahaman opinion leader ini sebenarnya berkembang di barat. Tesis awalnya melihat bahwa media memiliki peran yang kuat dalam masyarakat, termasuk masyarakat yang kurang mengakses media sekalipun. Pada masyarakat model ini berlaku model <em>two step flow of communication</em>, informasi dari media akan melewati opinion leader terlebih dahulu untuk kemudian disampaikan kepada masyarakat luas.</p>
<p>Akan tetapi, model ini tentu tidak sepenuhnya berlaku dalam kasus Mbah Maridjan. Mbah Maridjan adalah opinion leader yang tidak mengakses media dengan aktif. Posisi yang istimewa di mata masyarakat tersebut lebih didadasarkan oleh titah <em>ngarso ndalem</em> Sultan Hamengkubuwono IX. Pasca meninggalnya Mbah Maridjan, menurut saya, era peran opinion leader di kawasan Merapi pun akan semakin surut. Hal ini sebenarnya sudah dapat terbaca dari pesan-pesan Mbah Maridjan sebelum meninggal. Mbah Maridjan sempat menyatakan, ”Kalau sudah merasa harus mengungsi, mengungsi saja. Jangan mengikuti orang bodoh yang tak pernah sekolah seperti saya ini,” (Kompas, 28 Oktober 2010). Bila dibaca lebih dalam, seharusnya itu jadi pertanda bagi masyarakat untuk mempercayai sumber informasi alternatif selain dirinya. Peran teknologi komunikasi kini semakin besar dan akan terus membesar di dalam masyarakat sekitar Merapi.</p>
<p>Di berbagai belahan dunia lain, perkembangan teknologi komunikasi adalah musuh dari opinion leader. Akses teknologi komunikasi yang makin mudah, mengubah pola interaksi antara masyarakat dengan opinion leader. Hubungan dulu yang amat intim, perlahan tapi pasti mulai tergantikan. Faktanya “ilmu tentang Merapi” kini tak hanya dikuasai oleh elit tertentu, namun secara luas lewat kecanggihan teknologi vulkanologi. Di situlah teknologi komunikasi mendukung penyebaran segala informasi yang berkaitan dengan Merapi.</p>
<p>Pada akhirnya, gugatan bahwa kehadiran teknologi akan membunuh tradisi yang telah lama ada seharusnya tidak terjadi. Keduanya dapat bersinergi &#8211; saling melengkapi. Arus informasi dari media massa adalah alternatif bagi opinion leader. Bahwa kebenaran pendapat dan sikap dari opinion leader tentulah tidak selalu benar, karena mereka juga manusia biasa. Dan dalam kondisi genting bencana seperti ini, ketepatan komunikator ditujukan untuk meminimalisir jatuhnya korban. Itulah harapan kita bersama.</p>
<p><strong>M. Zulfi Ifani</strong></p>
<p><em>Sekretaris Bidang IMM Cabang BSKM<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://immugm.web.id/2010/11/06/mbah-maridjan-dan-peran-opinion-leader/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

