oleh: Ghifari Yuristiadhi

Senin (14/2) yang lalu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah cabang Bulaksumur Karangmalang (BSKM), Sleman dihadirkan dalam siaran acara “Berani Bicara” di studio TVRI Jogja. Siaran acara “Berani Bicara” TVRI Jogja yang berformat debat itu mengangkat tema “Benarkah gerakan mahasiswa stagnan?” Sebagai lawan bicara, TVRI Jogja menghadirkan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Yogyakarta.
Isu gerakan mahasiswa yang stagnan diangkat pada kesempatan itu dengan melihat realita bahwa gerakan mahasiswa hari ini memang terkesan mandeg. Apabila dibandingkan dengan gerakan mahasiswa yang bergolak pada dekade 1960’an dan 1990’an, ada perbedaan signifikan dengan gerakan mahasiswa hari ini. Perbedaan itu tampak dengan sinyalemen bahwa gerakan mahasiswa hari ini sangat ego sektoral, tidak bersatu dan berjalan sendiri-sendiri. more…

Category: Informasi  One Comment

Taken from SatuDunia.Net (Ashley Wirthlin)Oleh M. Zulfi Ifani*

Beberapa hari terakhir ini, telinga dan mata kita sedang dibombardir oleh media dengan gejolak politik di kawasan Timur Tengah. Dengan motif yang secara mendasar sama: melawan tirani pemimpin otoriter yang menyengsarakan rakyat, rakyat lalu mengadakan revolusi jalanan. Sejauh ini Tunisia sudah berhasil, dengan jatuhnya Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali yang sudah berkuasa selama lebih dari 23 tahun. Kini pendulum revolusi tersebut sedang mengarah ke Mesir. Negeri ini selama lebih dari 30 tahun terakhir dipimpin oleh seorang Hosni Mobarak, yang sudah banyak diketahui gaya kepemimpinannya pun tidak kalah otoriter.

Dari sudut ilmu komunikasi. Pembicaraan lalu bergeser kepada medium perjuangan rakyat. Media baru, khususnya Facebook berperan begitu penting. Di Tunisia, Facebook menjadi tempat diskusi keresahan antar warga, sekaligus jadi medium untuk menyebarkan undangan melawan rezim. more…

Category: Opini  Leave a Comment

Oleh : Muhammad Farid Alwajdi*

Suatu ketika di tahun 399 SM ada seorang yang sangat terkenal dengan kepandaiannya tentang filsafat dan ilmu politik yang dijebloskan ke penjara dan akan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Heliast (Court of Heliast). Dia adalah Socrates, orang yang belajar langsung dari Plato sedangkan plato sendiri merupakan Bapak Filsafat Yunani Kuno. Tuduhan yang dikenakan kepada Socrates ada dua. Pertama, Socrates menolak menyembah dewa resmi yunani dan yang Kedua, Dia dianggap meracuni pikiran anak muda.

Menariknya Socrates diadili oleh seluruh warga atena yang terdiri dari 501 orang. Angka ganjil tersebut harus selalu ada untuk memastikan bahwa terdapat kepastian hukum yang jelas. Selanjutnya orang yang merasa mempunyai bukti bahwa orang lain melakukan kesalahan dapat dituntut maka dia dapat menjadi jaksa. Pendek kata Setiap warga dimungkinkan untuk menjadi hakim dan jaksa. Hal ini sangatlah wajar mengingat jumlah penduduk suatu negara pada waktu itu hanya berjumlah ratusan.

more…

Author: Muhammad Ghufron Mustaqim

Having been twice reversed, Obama finally visited Indonesia in less than 24 hours trip (9-10/11). Together with first lady Michelle Obama, the 44th US President landed on Halim Perdana Kusuma Airport on Tuesday afternoon after a previous visit to “aal iz well” country, India. What does this signifies to Indonesia, specifically to Indonesian student? Of course a part from delight being visited by this sexiest president.

Ever been to US? It’s basically an admirable countryside for you to draw closer. It is dirt free from unmanaged garbage and junk, which they often come across in every meter of our footstep in our motherland. You can glimpse white, black, and colored people coming from every corner in this world. For you who love shopping, or window-shopping, US offers you with various attractive and excellent stores, which provide everything ever produced. What’s more, historical sites, with their admirable and splendid construction, should wave our astonishment to this country. FYI, I desperately dream to be there almost immediately, and you must as well, must not you?
more…

oleh M. Zulfi Ifani

Meninggalnya Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi, pada erupsi Selasa (26/10) menyisakan duka dan juga pertanyaan dari berbagai kalangan. Para tetangga menilai beliau sebagai sosok pemimpin yang sederhana dan bertanggungjawab, sebagian besar media pun tidak jauh berbeda dalam menilai. Akan tetapi, tak sedikit pula yang mengkritik bahwa sikap beliau yang keras kepala dengan mengabaikan paksaan untuk segera turun menyebabkan korban yang tak sedikit. Tak hanya beliau yang kehilangan nyawa, namun juga belasan warga desa lainnya yang sami’na wa atho’na atas segala keputusan beliau.

Dalam dunia komunikasi, tindakan sebagian warga yang lebih percaya dengan Mbah Maridjan ketimbang pemerintah dapat dianalisis, salah satunya dengan pendekatan opinion leader. more…