<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>:: IMM UGM ONLINE :: &#187; UGM</title>
	<atom:link href="http://immugm.web.id/tag/ugm/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://immugm.web.id</link>
	<description>Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Gadjah Mada</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Aug 2010 05:37:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kritik untuk Kemajuan BEM KM UGM</title>
		<link>http://immugm.web.id/2010/02/02/kritik-untuk-kemajuan-bem-km-ugm/</link>
		<comments>http://immugm.web.id/2010/02/02/kritik-untuk-kemajuan-bem-km-ugm/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 23:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IMM UGM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[BEM KM]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://immugm.web.id/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[ 
 
Oleh: Muhammad Ghufron Mustaqim*)
Konteks dan Identifikasi Masalah
BEM KM UGM adalah organisasi mahasiswa yang secara struktural memiliki jangkauan kekuasaan terluas di kalangan mahasiswa UGM. Institusi ini merupakan organisasi di mana mahasiswa-mahasiswa UGM tidak sebatas belajar berorganisasi, namun sekaligus belajar membumikan keintelektualitasan mereka ke dalam aksi-aksi nyata, baik itu dengan mencermati kebijakan pemerintah-rektorat, maupun melakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em><img style="float: left; border: 0px initial initial;" title="BEM KM UGM" src="http://immugm.web.id/wp-content/uploads/2010/02/BEM-KM.JPG" alt="BEM KM UGM" width="320" height="240" />Oleh: Muhammad Ghufron Mustaqim*)</em></strong></p>
<p><strong>Konteks dan Identifikasi Masalah</strong></p>
<p>BEM KM UGM adalah organisasi mahasiswa yang secara struktural memiliki jangkauan kekuasaan terluas di kalangan mahasiswa UGM. Institusi ini merupakan organisasi di mana mahasiswa-mahasiswa UGM tidak sebatas belajar berorganisasi, namun sekaligus belajar membumikan keintelektualitasan mereka ke dalam aksi-aksi nyata, baik itu dengan mencermati kebijakan pemerintah-rektorat, maupun melakukan aksi-aksi sosial kemanusiaan.</p>
<p>Namun yang menarik untuk diperhatikan saat ini, adalah bagaimana mahasiswa UGM melihat BEM KM UGM itu sendiri dan juga apakah BEM KM ini mampu merefleksikan keanekaragaman mahasiswa-mahasiswa UGM.</p>
<p>Tulisan ini secara terbuka beropini tentang masalah-masalah BEM KM UGM, mulai dari kepemimpinan, kehomogenan anggota, hingga deligitamasi organisasi oleh publik mahasiswa UGM.<span id="more-132"></span></p>
<p><strong>Rezim Bunderan yang Terus Berkuasa</strong></p>
<p>Sejak keikutsertaan Partai Bunderan dalam demokrasi kampus tahun 1998, sejak itu juga Partai Bunderan selalu berhasil mengaruk suara terbanyak sehingga berhak menempatkan kadernya menjadi presiden BEM KM UGM untuk masa periode satu tahun. Tren ini masih terus berlangsung hingga pada Pemilu terakhir 15-17 Desember 2009, yang menghasilkan Aza El Munadiyah (22) sebagai calon presiden BEM KM UGM 2010. Setiap tahunnya Partai Boulevard, Partai Balairung, dan beberapa partai tidak tetap, hadir sebagai kompetitor, tetap saja tidak berhasil mengungguli Partai Bunderan.</p>
<p>Melihat keberhasilan Partai Bunderan selalu modominasi lebih dari 10 tahun ini, hadir pertanyaan, apakah selama kurun waktu itu mahasiswa UGM puas akan kepemimpinan kader Bunderan, sehingga menarik untuk selalu dipilih?Ataukah pola perkaderan yang bagus? Ataukah sebab yang lain?</p>
<p>Pertama, kepuasaan mahasiswa terhadap kinerja BEM KM UGM seharusnya berkorelasi positif dengan tingkat partisipasi mahasiswa UGM dalam pemira. Karena mahasiswa menganggap bahwa BEM KM merupakan organisasi strategis, terpandang, dan berpengaruh bagi mereka, maka untuk memastikan bahwa aspirasi mereka terwadahi mereka menyemarakkan pemira. BEM KM yang dipimpin oleh Bunderan dalam lebih dari 10 masa kepemimpinan ternyata tidak dapat membuktikan bahwa BEM KM UGM memenuhi kepuasaan publik mahasiswa ini. Tingkat partisipasi Pemira tetap rendah. Dari estimasi jumlah mahasiswa S1 UGM sebanyak 38.000 mahasiswa, tidak lebih dari 34% (13.000) mahasiswa menggunakan hak suaranya . Sehingga tidak tepat mengatakan, kesuksesan Partai Bunderan dalam setiap Pemira adalah akibat prestasi kadernya yang menjabat Presiden BEM KM.</p>
<p>Kedua, Partai Bunderan yang mendeklarasikan sifatnya sebagai partai Rabbaniah, Terbuka, Egaliter, dan Demokratis ini mengusung tema-tema dakwah Islam dalam rekruitmen anggotanya. Dinilai bahwa tema ini begitu populis dikalangan mahasiswa yang haus akan pemahaman keagamaan karena menemukan “minumannya” ketika aktif bergabung di Partai ini, sehingga banyak dikatakan bahwa Partai Bunderan sukses melakukan kaderisasi. Namun data dapat menjadi hakim yang objektif, di mana ternyata tingkat pemilih Partai Bunderan dari tahun ke tahun relatif sama, fluktuatif, dan tidak ada peningkatan yang signifikan, bergerak di angka 3.500 plus minus 500. Hal ini membuktikan bahwa basis massa Partai Bunderan tidak mengalami pelebaran, artinya eksklusif pada golongan yang tetap. Memang, partai ini setidaknya bisa dikatakan mampu memelihara jumlah massanya, namun ini tidak berarti bahwa pengakderannya sukses. Siklus sosial menjelaskan bahwa dalam sebuah komunitas, ketika beberapa anggota komunitasnya pergi, maka pengganti yang datang memiliki sifat atau karakter yang relatif sama dengan anggota yang meninggalkan. Hal ini terjadi dalam kondisi normal ketika tidak ada perubahan lingkungan eksternal yang drastis. Terdapat hukum keseimbangan. Dalam konteks ini adalah, mahasiswa-mahasiswa UGM memang setiap tahun ada yang lulus (termasuk kader Partai Bunderan), namun juga ada yang masuk. Dari sebagian yang masuk ini memiliki karakter dan sifat yang sama dengan mereka yang lulus, berupa kehausan keagamaan yang nantinya bergabung menjadi kader Bunderan. Karena suatu pengkaderan dikatakan sukses apabila mampu “menghauskan” mahasiswa yang pada dasarnya tidak “haus”, maka ketika Partai Bunderan hanya memiliki basis massa tetap pada golongon tersebut yang pada dasarnya “sudah haus”, tidak bisa dikatakan pengkaderannya sukses.</p>
<p>Ketiga, kedua penjelasan di atas membuat kita harus berpikir ulang tentang sebab kemenangan Bunderan di setiap pemilu. Setelah mengetahui bahwa kesuksesannya bukan akibat faktor internal Partai Bunderan (kesuksesan kepemimpinan dan kaderisasi yang baik), masih menyisakan faktor eksternal untuk dianalisis. Penulis mengatakan bahwa Partai Bunderan menang bukan karena dia baik, namun karena mahasiswa jemu dengan BEM KM UGM, tidak puas, memandang institusi ini tidak penting, sehingga mengakibatkan tingginya tingkat apatisme mahasiswa untuk berpartisipasi dalam Pemira. Dan tentunya ini merugikan partai-partai lain yang tidak berkuasa sebagai weaker actor, karena tidak dapat menambah massanya—yang pada akhirnya tidak bisa menyaingi Partai Bunderan. Dengan kata lain, dosa Partai Bunderan ini tidak meyebabkan mahasiswa apatis kepada Partai Bunderan secara khusus, namun mengeneralisasikan keapatisannya terhadap seluruh aktor utama yang terlibat dalam Pemilu, termasuk partai-partai lain yang tidak men-drive BEM KM UGM. Di sinilah timbul ketidakfairan, di mana hal ini berkonsekuensi kepada ketidakmungkinan partai lain menambah masa, sedangkan Partai Bunderan tidak perlu menambah, hanya memelihara massa, pasti menang.</p>
<p><strong>Deligitimasi Publik</strong></p>
<p>Deligitimasi mahasiswa terhadap BEM KM UGM tak pelak lagi karena institusi ini memiliki permasalahan-permasalahan vital di dalamnya.</p>
<p>Pertama, jangka waktu rezim Bunderan memimpin BEM KM UGM yang begitu lama, mampu menciptakan sebuah kultur yang tumbuh secara alami di kalangan pejabat-pejabat di dalamnya. Kultur itu ialah BEM KM UGM yang homogen dan monoperspektif. Orang-orang di dalamnya memimpin bukan untuk memperlihatkan kepemimpinan yang merefleksikan kemajemukan mahasiswa-mahasiswa UGM, namun lebih mengorientasikannya pada bagaimana mempertahankan dan menajamkan kultur ini yakni dengan merekrut anggota-anggota yang jinak dan tidak membahayakan keeksistensian kultur tersebut. Hal ini menyebabkan katidakpercayaan publik mahasiswa terhadap kepemimpinan BEM KM UGM, karena mereka merasa tidak dilibatkan dalam menentukan prioritas gerakan kampus—sebab unsur yang mewakili mereka tidak ada di BEM KM. DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) bukan tempat yang relevan untuk mewakili kemajemukan mahasiswa UGM (walaupun tetap penting), karena ini adalah tugas BEM KM sebagai simbol organisasi mahasiswa UGM, di kalangan dalam maupun luar, untuk mencermikankan mahasiswa-mahasiswanya.</p>
<p>Kedua, motif politik ekstra kampus yang biasanya dikaitkan dengan partai politik nasional tertentu, menciptakan reluktansi mahasiswa untuk percaya terhadap independensi ideologi dan tujuan politik BEM KM UGM. Fenomena luar biasa di berbagai universitas Indonesia, bahwa BEM mereka dinahkodai dan didominasi oleh sebuah kelompok yang memiliki nilai-nilai sama antara satu universitas satu dengan yang lainnya. Hal ini menyebabkan publik menduga bahwa ada misi politik khusus mengapa para anggota kelompok ini begitu getol memenangkan pemilu di setiap kampus. Dalam lingkup UGM, timbul unconscious agreement diantara mahasiswa bahwa “sudahlah mengapa kita perlu percaya dan empati kepada BEM KM UGM ketika institusi ini tidak bersih dari kepentingan sebuah golongan untuk kemenangan salah satu partai nasional , dan bukannya mewakili kepentingan keragaman mahasiswa UGM!” Tentunya persepsi ini buruk ketika BEM KM UGM ingin mendapatkan legitimasi publik. Karena pada akhirnya, mahasiswa lebih memilih organisasi-organisasi lain untuk mengekspresikan perspektif dan keragaman mereka, dan menutup mata terhadap BEM KM UGM.</p>
<p>Kultur politik homogen dan monoperspektif serta motif politik ekstra kampus, merupakan masalah besar di dalam BEM KM UGM yang harus diselesaikan apabila institusi ini ingin mendapatkan legitimasi publik. Revitalisasi adalah hal mutlak untuk benar-benar mencerminakan BEM KM UGM kepluralitasan dan kemajemukan mahasiswa UGM.</p>
<p><strong>Isyu Terkini: Ciri Akademis Mahasiswa yang Terkorbankan untuk Jabatan</strong></p>
<p>Kompas, Jum’at 29 Januari 2010, membuat berita yang cukup menggemparkan di kalangan pembaca mahasiswa UGM. Kompas memberitakan bahwa BEM KM UGM akan melantik presiden 2010 terpilih Aza El Munadiyah (Mahasiswa Jurusan Fisika, MIPA UGM, 2006) walaupun tidak diakui pihak rektorat karena IP-nya hanya 1,96. Pihak rektorat mengatakan bahwa nilai ini terlalu rendah untuk seorang pemimpin mahasiswa, bahkan di dalam peraturan seharusnya mahasiswa ini sudah di DO.</p>
<p>Presiden BEM KM UGM, berdasarkan logika bahwa intitusi ini (seharusnya) merupakan refleksi dari kehidupan kampus mahasiswa UGM, memiliki konsekuensi bahwa dia harus bisa menjadi simbol keintelektualitasan mahasiswa UGM. Pemimpin ini bertanggung jawab untuk memberikan teladan kepada mahasiswa-mahasiswa lain—yakni sukses organisasi sekaligus akademis, dan juga bertanggungjawab membawa citra kecerdasan mahasiswa-mahasiswa UGM bagi masyarakat luas.</p>
<p>Sangat disayangkan apabila BEM KM UGM memiliki pemimpin yang secara akademis memprihatinkan. Beberapa justifikasi yang sering muncul antara lain: a) Beginilah konsekuensi seorang aktivis yang memperjuangkan aspirasi mahasiswa sehingga menomorduakan akademis, dan b) Mengapa tidak digagalkan sebelum pemira berlangsung.</p>
<p>Negasi pernyataan pertama adalah memperjuangkan mahasiswa dan sukses akademis merupakan dua hal yang tidak mutually exclusive. Artinya seorang mahasiswa bisa mencapai keduanya karena tidak harus mengorbankan salah satunya untuk sukses di salah satu yang lain. Kuncinya terdapat pada kualitas dan keprofesionalitasan pribadi mahasiswa tersebut dalam memenejemen waktu dan kekonsistensian memperoleh keduanya. Apabila presiden terpilih saat ini terbukti gagal secara akademis, maka pertanyaannya adalah apakah dirinya memiliki pribadi yang berkualitas dan profesioanal, sehingga pantas menjadi presiden BEM KM UGM? Para intelektual di kalangan mahasiswa UGM pasti gelisah dengan fenomena ini. Namun bisa saja mereka tidak gelisah, dan ini malah menjadi pertanda buruk bagi BEM KM UGM, karena tidak dihiraukan, hanya dikesampingkan, dan dibiarkan oleh individu-individu di dalam universitas. Karena kegelisahan berarti perhatian, maka ketika itu tidak ada maka BEM KM UGM pun dianggap tidak ada. Oleh karena itu, pencapaian akademisi yang baik bagi presiden BEM KM tetaplah hal yang wajib untuk kebaikan pemimpin itu sendiri dan juga institusi yang dipimpinnya.</p>
<p>Negasi pernyataan kedua simple, terlepas dari dugaan kolaboratif Partai Bunderan dengan Panitia Pemilu, penulis bertanya, apakah mahasiswa yang mencalonkan diri menjadi Presiden itu tidak sadar bahwa ketika ia pada akhirnya terpilih akan menjadi simbol keintelektualitasan mahasiswa UGM? Apakah dirinya tidak malu memiliki pencapaian akademis yang rendah, kok mencalonkan pemimpin? Apakah dengan modal yang redah tersebut dirinya percaya diri kalau akan mendapatkan simpati dan rasa hormat dari mahasiswa-mahasiswa yang dipimpinnya? Ketiga pertanyaan ini mengantarkan pada penilaian bahwa mahasiswa yang bersangkutan sudah buta dengan jabatan. Faktor-faktor lain —yang sebenarnya menjadi pendukung untuk kesuksesan kepemimpinannya, dianggap tidak penting.<br />
Kekuasaan adalah segalanya untuk mempertahankan rezim dan kultur yang sudah lama dibangun. Penilaian mahasiswa-mahasiswa lain yang gelisah terhadap hal ini tidaklah penting, karena presiden terpilih ini memimpin BEM KM UGM sebenarnya bukan untuk merefleksikan kepentingan mahasiswa-mahasiswa UGM, namun untuk kesenangan kelompok yang mendukungnya saja. Beginilah ciri akademis mahasiswa yang terkorbankan untuk sebuah jabatan!</p>
<p>Pada akhirnya, penulis mengharapkan BEM KM dan orang-orang di dalamnya yang menjadi aktor utama penggerak, untuk mendengar pergumulan mahasiswa-mahasiswa yang mengkritiknya, dan berbenah diri. Dan bagi mahasiswa-mahasiswa UGM, penulis berpesan, bahwa ketika kita tidak bisa percaya kepada para pemimpin dan organisasi yang menaungi kita, kita tidak harus menunggu perubahan datang dari mereka. Karena kita harus percaya bahwa kekuatan kolektif kita, yang didukung dengan intelektualitas dan disokong dengan keberagaman, bahkan mampu memindahkan sebuah gunung. Kita adalah pemegang warisan keagungan UGM dengan segala title yang disandangnya. Maka mengapa kita tidak mulai bekerjasama untuk segera memiliki BEM KM UGM sesuai dengan keinginan kita bersama?</p>
<p>Yogyakarta, 2 Februari 2010</p>
<p><strong><em>*) Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UGM 2009. Penulis memiliki minat dalam pengkajian pergerakan politik kampus sekaligus praktisi.</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://immugm.web.id/2010/02/02/kritik-untuk-kemajuan-bem-km-ugm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buka Bersama Keluarga Besar Muhammadiyah UGM</title>
		<link>http://immugm.web.id/2009/09/10/buka-bersama-keluarga-besar-muhammadiyah-ugm/</link>
		<comments>http://immugm.web.id/2009/09/10/buka-bersama-keluarga-besar-muhammadiyah-ugm/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 09:01:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IMM UGM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[IMM UGM]]></category>
		<category><![CDATA[RBI 1430 H]]></category>
		<category><![CDATA[Silaturahim]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://immugm.web.id/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[  
[singlepic id=27 w=250 h= float=left]“Saya tidak dilahirkan dari keluarga Muhammadiyah, saya mengenal Muhammadiyah baru saat mahasiswa, setelah bergabung dengan IMM. Bagi saya IMM adalah sebuah pilihan rasional.”, ungkap Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A. dalam Buka Bersama Keluarga Besar Muhammadiyah UGM pada hari Senin 7 September 2009 lalu. Acara yang diselenggarakan oleh PK IMM [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]> <mce:style><!<br />
/* Style Definitions */<br />
table.MsoNormalTable<br />
{mso-style-name:"Table Normal";<br />
mso-tstyle-rowband-size:0;<br />
mso-tstyle-colband-size:0;<br />
mso-style-noshow:yes;<br />
mso-style-parent:"";<br />
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;<br />
mso-para-margin:0in;<br />
mso-para-margin-bottom:.0001pt;<br />
mso-pagination:widow-orphan;<br />
font-size:10.0pt;<br />
font-family:"Times New Roman";<br />
mso-ansi-language:#0400;<br />
mso-fareast-language:#0400;<br />
mso-bidi-language:#0400;}<br />
--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">[singlepic id=27 w=250 h= float=left]“Saya tidak dilahirkan dari keluarga Muhammadiyah, saya mengenal Muhammadiyah baru saat mahasiswa, setelah bergabung dengan IMM. Bagi saya IMM adalah sebuah pilihan rasional.”, ungkap Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A. dalam Buka Bersama Keluarga Besar Muhammadiyah UGM pada hari Senin 7 September 2009 lalu. Acara yang diselenggarakan oleh PK IMM UGM tersebut mengundang mahasiswa, karyawan, hingga dosen aktivis dan simpatisan Muhammadiyah sekaligus ortom-ortomya di lingkungan UGM.</p>
<p><span id="more-53"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Menurut Ghifari Yuristiadhi, koordinator acara yang berlangsung di Wisma Kagama UGM tersebut, PK IMM UGM sengaja menyelenggarakan acara yang mempertemukan keluarga besar Muhammadiyah se-UGM mengingat selama ini terkesan tidak ada jalinan silaturahmi antara IMM UGM sebagai penjaga gawang Muhammadiyah di ranah kampus UGM dengan dosen-dosen yang berafiliasi Muhammadiyah, termasuk dengan mahasiswa-mahasiswi yang berafiliasi ke ortom Muhammadiyah selain IMM.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sementara itu, Ketua Umum PK IMM UGM, Zulfi Ifani, mengharapkan follow up dari acara ini adalah terbentuknya Forum Dosen Muhamadiyah di UGM dan Forum Komunikasi Alumni IMM UGM. <strong>(HQ)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://immugm.web.id/2009/09/10/buka-bersama-keluarga-besar-muhammadiyah-ugm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AAI Semestinya lebih Humanis</title>
		<link>http://immugm.web.id/2009/05/31/aai-semestinya-lebih-humanis/</link>
		<comments>http://immugm.web.id/2009/05/31/aai-semestinya-lebih-humanis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 09:35:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IMM UGM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://immugm.web.id/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Ari Hendra Lukmana *)
Dirasa kurang efektif dan tidak reseprentatif dalam mengajarkan sebuah nilai-nilai agama islam didalam sebuah kelas formal di kampus, maka perlunya sebuah metode yang mampu dan efektif, sehingga muncullah gagasan untuk menerapan sistem atau metode asistensi. Metode yang secara langsung dan fokus yang dilakukan seorang pengajar atau pemandu dalam memberikan ajaran-ajaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">oleh : Ari Hendra Lukmana *)</p>
<p style="text-align: justify;">Dirasa kurang efektif dan tidak reseprentatif dalam mengajarkan sebuah nilai-nilai agama islam didalam sebuah kelas formal di kampus, maka perlunya sebuah metode yang mampu dan efektif, sehingga muncullah gagasan untuk menerapan sistem atau metode asistensi. Metode yang secara langsung dan fokus yang dilakukan seorang pengajar atau pemandu dalam memberikan ajaran-ajaran islam kepada beberapa orang dalam sebuah kelompok. Sistem inilah yang ternyata melahirkan sebuah hasil yang memuaskan, baik ditinjau dari pihak kampus yang mudah dalam penilean mahasiswa dalam kuliah agama islam, yang tidak hanya secara sederhana dinilai dari kognitif saja. Dari segi mahasiswa sendiri keuntungan system ini dapat dilihat dari lebih mudahnya mahasiswa dalam saling menimba ilmu antara pemandu dengan peserta. AAI Sistem ini terinspirasi dari metode awal dakwah Nabi Muhammad SAW ketika baru saja diangkat menjadi seorang rosul. Metode dakwah yang diterapkan pada awal kerosullan nabi yang sukses menciptakan istilah Assabiqunalawalun atau sebutan untuk orang-orang awal yang masuk islam dalam periode dakwah rosulluloh, yang banyak dalam membantu dakwah nabi Muhammad SAW tentu saja karena keikhlash mereka yang hanya mengharap ridho Alloh SWT, dan tegaknya agama Islam. kesuksesan inilah yang selanjutnya di lanjukan oleh para sahabat rosul dan ulama-ulama kita terdahulu tentu karena masih dengan konsep dan semanangat yang  sama yaitu hanya mengharapkan ridho Alloh, keikhlasan tanpa mengharapkan suatu apapun dan berjuang dengan sekuat tenaga.<span id="more-14"></span></p>
<p>* Asistensi Agama Islam ditengah badai.</p>
<p style="text-align: justify;">Subtitle inilah mungkin untuk menggambarkan bagaimana kondisi AAI saat ini di Universitas Gadjah Mada. Semakin kita jauh mengayuh sampan, tentu badai akan semakin sering menghapiri kita. Pepatah melayu yang sering kita dengar mungkin juga cocok untuk kita terapkan, jauh AAI telah mengembangkan layarnya tentu permasalahan satu demi satu muncul, baik itu datangnya dari internal maupun eksternal. Mulai dari tekhnis pelaksanaan yang masih kurang baik, ketidak eksisan AAI, keraguan pihak-pihak tertentu mengenai manfaat dan kepentingan apa yang sebenarnya di usahakan di AAI ini, ataukah masih sesuai koridor dalam pelaksanaanya ataukah hanya telah menjadi sebuah alat untuk kepentingan-kepentingan tertentu bagi sekelompok golongan di kalangan Mahasiswa. Bahkan sampai pada isu-isu yang berkenaan dengan permasalahan sosial dan kebudayaan seperti kecenderungan Mahasiswa sekarang yang kurang sadar untuk mengkaji lebih dalam soal nilai-nilai dan pengetahuan tentang agama islam, sehingga Mahasiswa cenderung tidak serius dalam mengikuti AAI dan seolah-olah lebih hanya sekedar mencari nilai saja. Hal inilah kadang menghambat atau bahkan kadang mengurangi ghirah baik pengelola, pembibing dan peserta sendiri dalam menjalankan dakwah ini. Permalahan-permasalahan inilah sebenarnya menghambat kesuksesan AAI sebagai media dakwah yang efektif dikalangan Mahasiswa yang tentu saja penyelesaiannya menjadi tugas kita bersama-sama.</p>
<p>* Mengembalikan konsep ditengah badai.</p>
<p>Ghirah AAI harus tetap ditegakkan, ghirah sepeti apakah?, tentu sebuah ghirah yang telah dicontohkan oleh suri tauladan kita, atau uswah kita Nabi Muhammad SAW.  Sebuah ghirah yang Alloh tanamkan untuk utusanya, dan seharunya mari kita mencoba untuk mulai kita tanamkan pada diri kita. Yaitu sebuah ghirah untuk mengharapkan ridho Alloh, niat tulus, rela berkorban, dan tentu saja dengan ditambah bekal ilmu yang banyak. Hal itulah yang seharusnya kita pikirkan bersama-sama, dan tentu diawali dengan kesadaran kita masing-masing. Hal-hal tersebut diatas merupakan dasar penyelesaian permasalahan dari berbagai permasalahan yang ada. Jika kita mampu menerapkan pada diri kita terutama sebagai seorang pemandu maka, permasalahan yang banyak terjadi akan kita sikapi dengan bijak. Yang akan membawa pada sebuah penyelesaian yang mudah, karena kita sudah mempunyai dasar kenyakinan dan pemikiran yang kuat. AAI memang sangat singkat. Akan tetapi makna, nilai pemahaman akan agama islam, pengamalan agama islam dan sebuah kebersamaan yang didapat dari AAI, haruslah menjadi sebuah kenangan tersendiri dan abadi bagi para asisiten dan khususnya peserta. Kenangan inilah yang akan membawa pada sebuah pengamalan akan agama islam dimanapun mereka berada. Sebuah Konsep yang ditawarkan kembali, yang sebenarnya konsep ini mengembangkan dan lebih mendalami dengan memahami konsep dari Rosululloh yang seharusnya diaplikasikan dalam kehidupan kita. Konsep yang sangat tekhnis inilah, muncul ketika keadaan para peserta AAI yang cenderung kemauawannya menurun untuk mengikuti asistensi ini. Mungkin saat ini peserta memandang AAI hanya duduk manis dan dengerin ceramah tentor tanpa tindak lanjut kebelakang dari pihak tentor, dan melemahnya ghirah dakwah para pemandu. persepsi inilah yang harus kita rubah. Mungkin konsep ini sudah banyak diusulkan atau bahkan telah dilaksanakan oleh segelintir pemandu di fakultas tertentu. Kongkret konsep yang ditawarkan adalah metode dakwah yang bersifat humanis. Tentu kita sudah tahu secara garis besar metode dakwah ini, yaitu dengan memanusiakan manusia. Yang sebenarnya merupakan konsep yang menjadi kunci sukses Rosululloh dalam berdakwah. Seharusnya mulai saat ini kita belajar bagaimana dahulu Nabi menjalin hubungan sosialnya dengan masyarakat Arap yang sangat bagus sehingga banyak kisah-kisah yang menyebutkan bahwa keberhasilan dakwah beliau, karena bagaimana beliau mampu bergaul dan memahami orang-orang pada masa itu. Konsep inilah yang harus kita tumbuhkan lagi di dalam AAI ini baik dengan cara pendekatan-pendekatan khusus yang dilakukan pendamping, mencoba memahami setiap peserta, dan mencoba untuk menjadi seorang yang selalu menawarkan dan membantu dalam setiap penyelesaian yang dihadapi oleh para peserta. Inilah pengaplikasian sebuah iman dan taqwa yang sesungguhnya, dan mungkin hal inilah yang masih menjadi tanggungan kita bersama, mari mulailah kita fikirkan dan selalu berusaha mempelajari bersama-sama, dengan keistiqomahan dengan hanya mengharapkan keridhoan NYA. Waullohuaklam.</p>
<p>*) Staff Bidang Dakwah PK IMM UGM 2009-2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://immugm.web.id/2009/05/31/aai-semestinya-lebih-humanis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
